Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tak Perlu Khawatir, Penularan Cucu Omicron Lebih Rendah dibanding Aslinya

Martin Bagya Kertiyasa , Jurnalis-Senin, 07 Maret 2022 |14:33 WIB
Tak Perlu Khawatir, Penularan Cucu Omicron Lebih Rendah dibanding Aslinya
Ilustrasi Gejala Omicron. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memang terus melakukan penelitian pada varian BA.3 yang disebut sebagai cucu dari Omciron. Tapi, WHO masih belum bisa menyimpulkan bagaimana varian BA.3 ini dibandingkan dengan varian Omicron.

WHO pun masih melihat data ini secara eksperimental, untuk melihat apakah subvarian Omicron ini dapat menyebabkan "penyakit yang lebih parah" dalam kondisi eksperimental ini.

Seperti diterbitkan Journal of Medical Virology, ketiga garis keturunan pertama kali terdeteksi pada waktu yang hampir bersamaan, dan dari tempat yang sama: BA.1 (Botswana), BA.2 (Afrika Selatan) dan BA.3 (Afrika Selatan Barat Laut).

"Oleh karena itu, virus yang berkembang secara bersamaan dan dari tempat yang sama, memiliki peluang yang sama untuk menyebar ke seluruh dunia," tulis studi tersebut seperti dilansir dari Livemint.

Tapi, meskipun ketiga garis keturunan telah menyebar ke seluruh dunia, tingkat penyebaran ketiga garis keturunan ini berbeda. Pasalnya, dominasi kasus varian Omicron atau BA.1 lebih tinggi dibandingkan lainnya.

“Dari ketiga garis keturunan ini, patut dipertanyakan mengapa hanya BA.1 yang mendominasi jauh lebih banyak daripada garis keturunan lainnya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan mutasi pada protein lonjakan yang diperlukan untuk transmisi virus dan masuknya sel inang,” tambah studi tersebut.

Studi ini menemukan bahwa dari 33 mutasi pada protein lonjakan garis keturunan BA.3, 31 mutasi umum terjadi pada BA.1. Akibatnya, garis keturunan BA.3 menyebabkan jumlah kasus terendah di ketiga garis keturunan ini.

"Dapat diperkirakan bahwa alasan garis keturunan BA.3 menyebar dengan kecepatan yang sangat rendah dan menyebabkan lebih sedikit kasus, mungkin karena hilangnya enam mutasi dari BA.1 atau memperoleh dua mutasi dari BA.2," jelas studi tersebut.

Sekadar informasi, Berdasarkan hasil studi eksperimental terhadap hamster, WHO menemukan subvarian Omicron BA.3 dapat menyebabkan infeksi yang lebih parah dari varian aslinya. Hasil studi yang dilakukan para peneliti di Jepang terkait varian baru Covid-19, WHO telah melihat sinyal terkait tingkat keparahan akibat subvarian baru.

Menurut WHO, dari hasil evaluasi di beberapa negara, tidak ada perbedaan tingkat keparahan BA.1 dibandingkan BA.2. Sehingga berdasarkan data tersebut, subvarian BA.3 memiliki tingkat keparahan yang sama dengan BA.1 dan BA.2 terkait risiko rawat inap.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement