VARIAN Omicron memang merupakan hasil mutasi dari virus Covid-19. Tapi, bukan berarti varian Omicron ini menjadi varian terakhir yang bermutasi. Bahkan, dalam beberapa minggu terakhir muncul turunan varian Omicron BA.2 dan BA.3.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sedang melacak beberapa sublineage dari varian Omicron, termasuk BA.1, BA.1.1, BA.2, dan BA.3. WHO melihat data ini secara eksperimental untuk melihat apakah subvarian Omicron ini dapat menyebabkan "penyakit yang lebih parah" dalam kondisi eksperimental ini.
"Yang paling menonjol yang terdeteksi di seluruh dunia adalah BA.1, BA.1.1 dan BA.2. Ada juga BA.3 dan sublineage lainnya juga," tulis WHO seperti dilansir dari Livemint.
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sublineage Omicron ini, sebuah penelitian berjudul 'Emergence of Omicron third lineage BA.3' diterbitkan dalam Journal of Medical Virology, dilakukan pada bulan Januari. Ini menjelaskan bagaimana badan kesehatan global harus melihat Omicron BA.3.
Memang, setelah kemunculan Omcron pada November 2021 di Botswana, WHO mengklasifikasikannya sebagai varian kelima yang menjadi perhatian. Ditemukan bahwa Omicron juga merupakan varian SARS-CoV-2 yang paling banyak bermutasi sejauh ini, dan kini telah beredar di 150 negara/wilayah hingga 8 Januari 2022.
Omicron memiliki tiga garis keturunan BA.1, BA.2, dan BA.3. Studi tersebut menunjukkan bahwa varian BA.1 dan BA.2 memiliki peningkatan mutasi protein yang berbeda, tapi tidak ada mutasi protein pada BA.3. Hanya saja, BA.3 memiliki kombinasi lonjakan protein mutasi pada varian BA.1 dan BA .2.
Studi tersebut mengatakan, Omicron sejauh ini dianggap menyebabkan penyakit ringan, tetapi mungkin juga mengembangkan beberapa mutasi yang dapat menyebabkan penyakit serius.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.