PEMERINTAH memutuskan untuk memberikan vaksin booster Covid-19 pada tahun depan. Vaksin booster ini diberikan untuk mencegah penularan lebih lanjut, apalagi saat ini varian omicron sudah masuk ke Indonesia.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut, ada dua skenario pemberian vaksin booster Covid-19 yang akan dimulai pada Januari 2022. Pertama, untuk vaksinasi lansia dan PBI non-lansia akan ditanggung negara. Sementara untuk booster non-APBN, vaksin booster tersedia di perusahaan farmasi yang akan langsung dijual ke masyarakat.
Budi merinci, vaksin booster yang dibiayai negara diberikan kepada 83,1 juta orang, sementara yang non-APBN atau mandiri hanya ada 125,2 atau 139 juta dosis vaksin. Sedangkan vaksin booster yang non-APBN akan diberikan kepada 125,2 juta atau sekitar 139 juta vaksin.
Lantas, apakah booster ini harus menggunakan vaksin yang sama seperti sebelumnya? Dokter spesialis mikrobiologi klinik RSUI, dr. Ardiana Kusumaningrum, Sp.MK pun menyebut akan lebih baik jika memakai vaksin yang sama seperti sebelumnya.
"Untuk booster masih tetap banyak penelitian dilakukan. Yang sudah dilakukan di Singapura, booster secara massal. Kalau booster menggunakan jenis vaksin yang sama. Karena antibodi yang dipicu sesuai dengan vaksin yang diberikan di awal," kata dia seperti dilansir dari Antara.
Terkait waktu pemberian vaksin booster, menurut Ardiana ini akan sangat bervariasi tergantung jenis vaksin yang digunakan. Di Singapura misalnya, booster vaksin diberikan setelah 6 bulan dosis kedua.
"Sifatnya minimal. Kalau lebih dari 6 bulan harus mulai dari yan pertama? Saat ini kebijakannya belum seperti itu. Tetap diberikan dosis berikutnya walau sudah lewat," kata Ardiana.
Ardiana mengatakan, vaksin dosis pertama memberikan kekebalan walau belum seoptimal bila seseorang mendapatkan juga vaksin dosis kedua. Booster vaksin menjadi tambahan untuk pembentukan antibodi.
Beberapa waktu lalu sempat ada pembahasan mengenai jenis vaksin yang bagus untuk melindungi tubuh dari sebagian varian Covid-19. Namun hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. "Mungkin nanti sifatnya melengkapi dosis vaksin. Tetapi saat ini belum menjadi kebijakan karena masih memerlukan data penelitian lebih lanjut," tutur Ardiana.
Dia menambahkan, vaksinasi COVID-19 dosis lengkap diharapkan bisa memberikan kekebalan jangka panjang. Tetapi jika ternyata ada penurunan maka, booster vaksin jenis yang seperti dosis 1 dan 2 akan diberikan. "Saat ini arahnya seperti itu. Skema pemberian booster kemungkinan akan segera kita lakukan," demikian tutur dia.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.