Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anak di Bawah 12 Tahun Tetap Sekolah Tatap Muka, Ini Pendapat IDI

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Senin, 06 September 2021 |17:35 WIB
Anak di Bawah 12 Tahun Tetap Sekolah Tatap Muka, Ini Pendapat IDI
Sekolah tatap muka (Foto: Times of India)
A
A
A

RUPANYA Anak berusia di bawah 12 tahun belum mendapat rekomendasi untuk disuntik vaksin Covid-19. Meski demikian, mereka diizinkan untuk sekolah tatap muka dengan penerapan protokol kesehatan yang sama ketatnya.

Ya, hingga sekarang pemerintah belum memperbolehkan anak di bawah 12 tahun menerima vaksin Covid-19. Hal ini pun banyak diberlakukan di beberapa negara lain dengan alasan belum lengkapnya data keamanan vaksin untuk kelompok usia tersebut.

Menjadi pertanyaan sekarang, apakah aman anak di bawah 12 tahun tetap sekolah tatap muka?

 sekolah tatap muka

Dokter Spesialis Anak dan Magister Sains Psikologi Perkembangan Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, menerangkan, keamanan anak di bawah 12 tahun untuk sekolah tatap muka menjadi tanggung jawab orangtua, guru, maupun pihak lain yang bersinggungan dengan kegiatan sekolah tatap muka anak.

"Sebab, penularan bisa terjadi sejak si anak keluar rumah, sampai di sekolah, hingga si anak pulang kembali ke rumah," papar Prof Soedjatmiko, dalam webinar daring, belum lama ini.

Soal bagaimana semestinya anak di bawah 12 tahun menjalankan protokol kesehatan di sekolah, Prof Soedjatmiko, yang juga merupakan bagian dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) maupun ITAGI menyatakan, caranya sama dengan mereka yang sudah divaksin. "Jadi, si anak tetap harus pakai masker double yang menutupi mulut, hidung, pipi, hingga dagunya," terangnya.

Kemudian, jangan memberikan masker orang dewasa ke anak-anak. Apalagi si anak yang masih kelas 1 yang tubuhnya masih sangat kecil. Bisa-bisa nanti maskernya melorot atau kendur dan ini menjadi pintu masuk virus ke tubuh.

Soal masker double, usahakan si anak mengenakan masker medis sesuai usianya sebagai masker pertama. Setelah itu, dilapis lagi dengan masker kain yang kembali sesuai dengan ukuran wajahnya.

"Kalau mengandalkan masker kain saja yang tipis, bercak ludah bisa tembus, dan ini artinya virus tetap bisa masuk. Berbahaya sekali," terangnya.

Sebagai penekanan, Prof Soedjatmiko menegaskan bahwa keselamatan anak bukan semata-mata tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga orangtua, guru itu sendiri, dan juga pengawas sekolah.

"Untuk itu, sangat disarankan kepada semua orangtua maupun guru, jika mengetahui anaknya atau ada muridnya yang tampak sakit, jangan dibiarkan keluar rumah. Anak yang sakit tidak boleh berangkat sekolah, begitu juga dengan guru yang sakit, jangan mengajar, karena ini meningkatkan risiko penularan penyakit," tambah Prof Soedjatmiko.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement