Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, banyak pekerja yang terpaksa dirumahkan akibat berhentinya roda perekonomian. Untuk bertahan hidup, tak sedikit yang mulai merintis bisnis kecil-kecilan dengan modal seadanya.
Namun pada kenyataannya, membuka usaha atau bisnis baru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi perkembangan teknologi informasi dan internet dari tahun ke tahun begitu pesat.
Hal ini memicu terjadinya pergesaran gaya hidup, hingga memunculkan berbagai trem baru. Maka dari itu, diperlukan persiapan dan perhitungan yang sangat matang sebelum merintis bisnis.
Baca Juga : Menjajal Pulot Ijo, Kuliner Legandaris Khas Aceh
Mohamad Iqbal selaku CEO bandros.co.id pun membagikan beberapa tips berbisnis di tengah pandemi Covid-19, khususnya di sektor kuliner.

Iqbal mengatakan, langkah pertama yang harus dipikirkan oleh seorang wirausaha adalah menentukan jenis bisnis yang hendak dijalankan. Hal ini didasari oleh semakin banyaknya jenis bisnis musiman atau mengikuti tren yang sedang berkembang.
"Tren seperti ini sebenarnya bukan cuman di Indonesia. Manusia itu kan pada dasarnya oportunis, kalau ada peluang pasti kita ambil. Jadi mengikuti tren itu gak ada salahnya. Tetapi harus hati-hati menentukan targetnya. Kalau ingin punya bisnis yang sustain (berkepanjangan), pastinya jangan pilih bisnis musiman," ungkap Iqbal saat ditemui di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, Selasa (30/6/2020).
Namun bagi wirausaha yang tertarik menjajal bisnis ini, Iqbal menyarankan untuk menarik target penjualan maksimum 1 tahun. Selain itu, diperlukan inovasi dan kontrol kualitas agar produk tetap diminati konsumen.
Ambil contoh tren bisnis boba tea. Dalam beberapa tahun terakhir, minuman asal Taiwan ini memang sangat digemari masyarakat Indonesia karena menyuguhkan sensasi baru, di tengah gempuran tren coffee shop.

Sayangnya, Iqbal menjelasskan bahwa boba termasuk dalam kategori bisnis musiman, sehingga dibutuhkan inovasi dan prediksi agar bisnis tersebut dapat bertahan.
"Boba ini berbeda dengan kopi. Kopi itu produk basic yang sampai akhir jaman pun masih akan diminum banyak orang. Jadi memang harus pintar memprediksi kapan tren boba ini akan berakhir. Tarulah durasinya 1 tahun. Sebelum itu, harus sudah siapkan cadangan bisnis lain, supaya perputarannya tetap berjalan," tandas Iqbal.
(Helmi Ade Saputra)