Situasi pandemi COVID-19 bagi masyarakat Indonesia adalah sesuatu yang baru. Pengalaman baru bagaimana menghadapi pandemi, bagaimana kita akhirnya harus terpaksa belajar, bekerja dan beribadah di rumah, tidak boleh mudik dan berpergian baru dirasakan oleh masyarakat Indonesia.
Di situasi seperti saat ini, tiba-tiba kita merasa sangat membutuhkan. Banyak yang merasa putus asa untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat kenyamanan. Lalu karena empati kemudian muncul banyak tindakan tolong menolong.
Mulai dari berbagi persediaan makanan atau sekedar memberikan rasa nyaman kepada orang lain. Ingat bagaimana warga Wuhan dan Italia saling menguatkan, memberikan dukungan satu sama lain di saat lockdown dengan cara sederhana yakni bernyanyi bersama dari atap atau balkon rumah masing-masing dan meneriakan kata-kata pembakar semangat satu sama lain.
Inilah yang disebut dengan rasa empati, perilaku altruistik yang sebetulnya sudah terjadi dan dirasakan di saat situasi krisis sebelumnya seperti bencana banjir, badai, dan sebagainya.

Contoh perilaku di atas disebutkan memberikan dopamin (hormon pengontrol emosi yang memengaruhi kemampuan mengingat sampai menggerakkan tubuh) bagi sang pemberi dan sang penerima dan semua orang yang berbagi di dalamnya untuk membangkitkan semangat.
Perasaan empati yang telah berevolusi ini nyatanya ada hubungannya dengan sistem saraf loh. Dijelaskan oleh Peter Sterling, Profesor Ilmu Saraf di Fakultas Kedokteran University of Pennsylvania School of Medicine. Ada hubungan jelas dari empati dengan neurobiologi.
Dikatakan, contohnya ketika kita berbagi apa yang kita punya untuk membantu tetangga yang membutuhkan. Maka denyut dopamin dari sirkuit saraf inti yang menghargai setiap peristiwa positif yang tidak terduga. Nah denyut neurokimiawi inilah yang membangkitkan denyut perasaan yang baik, kelegaan sesaat yang dicari.
Empati disebutkan sebagai sifat yang kompleks, ciri-cirinya sering diwariskan sebagian melalui gen kita. Contohnya ketika orang tua yang tinggi mentransmisikan gen tinggi yang berlimpah kepada keturunannya, anak bisa saja mewarisi 200 gen lebih banyak untuk tinggi.
Sekelompok peneliti melalui penelitian pada 2018 lalu menemukan bahwa empati memiliki kontribusi genetik yang substansial.
Tidak dapat dipungkiri, beberapa orang mewarisi gen yang lebih. Salah satunya bisa karena mereka lahir dari orang tua yang empati, kemudian anak-anak tersebut juga melihat perilaku empati dan diberi penghargaan atau reward karena melakukannya.
Dengan demikian, pembelajaran dan nilai-nilai keluarga ini dikatakan bisa memperkuat sirkuit saraf pro-sosial.
Ada juga beberapa tipe orang yang mewarisi sedikit gen pro-empati daripada jumlah rata-rata dan cenderung merasa kurang empati. Salah satu faktor pemicunya, kemungkinan bisa karena lahir dari orang tua yang punya rasa empati rendah, jarang melihat langsung contoh perilaku empati atau tidak dihargai karena melakukan perilaku empati.
Sekarang, dengan terjadinya pandemi COVID-19, ilmu saraf dan genetika menunjukkan bahwa untuk setiap sifat manusia, ada distribusi sistem saraf di dalamnya. Demikian seperti diwarta Popularscience, Rabu (29/4/2020).
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.