Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pandemi COVID-19, Ini Cara Tahanan Rumah agar Tetap Waras saat Isolasi Diri

Pandemi COVID-19, Ini Cara Tahanan Rumah agar Tetap Waras saat Isolasi Diri
ilustrasi: shutterstock
A
A
A

DALAM upaya mencegah penularan virus corona (COVID-19), pemerintah mengeluarkan aturan untuk penetapan aturan Pembatasan Sosial Skala Besar (PPSB). DKI Jakarta merupakan provinsi pertama di Indonesia yang telah disetujui penetapan PPSB oleh Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.

Akibatnya, sebagian dari kita mesti di rumah aja melakukan isolasi diri. Isolasi mandiri perlu dijalankan supaya ruang isolasi di rumah sakit, bisa digunakan oleh orang-orang dengan kondisi penyakit yang sudah parah dan butuh penanganan intensif.

Namun pastinya saat melakukan isolasi diri, kita merasa bosan dan jenuh. Tapi tahukah Anda, puluhan ribu orang di Rusia menjadi tahanan rumah atas dakwaan politik atau dakwaan lainnya.

Dari puluhan ribu tersebut, enam warga Rusia ini membagikan kisahnya selama menjadi tahanan rumah. Berikut ini cara enam tahanan tersebut mengisi waktunya agar tetap waras saat menjadi tahanan rumah seperti dilansir BBC Indonesia, Rabu (8/4/2020).

1. Waktu untuk merenung

Sutradara teater Kirill Serebrennikov menghabiskan setahun setengah dalam tahanan rumah di Moskow. Ia membuat video: cara tetap waras saat Anda terjebak di dalam ruangan.

Kehidupan normal penuh dengan interupsi seperti panggilan telepon, Instagram, dan Facebook. Namun isolasi bisa memberi Anda kesempatan untuk beristirahat.

"Ini kesempatan bagus untuk melepaskan Anda dari semua kekacauan itu," kata Kirill Serbrennikov. "Anda bisa berfokus pada pertanyaan-pertanyaan yang penting - seperti siapa Anda dan apa yang Anda inginkan dari hidup,"ujarnya.

Ia menyarankan untuk menulis buku harian, dan menuliskan bahkan hal-hal sepele yang muncul di kepala Anda.

Yulia Tsvetkova, feminis dan sutradara teater anak di Siberia menjadi tahanan rumah selama empat bulan karena mempromosikan hak-hak perempuan dan LGBT di internet.

Ia mengatakan masa penahanannya "kesempatan bagus untuk tidak melakukan apa-apa tanpa merasa bersalah".

2. Antisipasi perasaan depresi

Sergei Fomin, yang menghabiskan satu bulan dalam detensi prapersidangan dan tiga bulan tahanan rumah karena ikut serta dalam unjuk rasa di Moskow musim panas lalu, mengingat rencana yang ia buat ketika ia dilepaskan dari detensi prapersidangan.

"Saya akan berolahraga, push-up dan squat serta membuat jadwal untuk membaca," ujarnya.

Tapi setelah sebulan, Sergei kolaps. "Rutinitas harian saya berantakan. Saya bangun jam 10 pagi dan berbaring di tempat tidur sampai jam 3 sore, menghabiskan tiga jam di kamar mandi kemudian merangkak kembali ke tempat tidur,"kata dia.

"Saya ingin menjadi kepompong, bersembunyi di bawah selimut dan menjauh dari dunia dan kenyataan, dan itu membuat saya takut," kata perempuan itu.

Matematikawan Dmitry Bogatov menghabiskan hampir enam bulan dalam tahanan rumah pada 2018.

Ia berkata, "Sulit sekali mempertahankan jadwal apapun karena biasanya kita punya hal-hal untuk mengarahkan kita, seperti ketika toko-toko tutup dan harus tiba di tempat kerja tepat waktu. Tapi semua itu menjadi tak berarti."

Natalya Sharina, mantan direktur Perpustakaan Sastra Ukraina, ditahan pada 2015 dan menjadi tahanan rumah selama lebih dari 18 bulan. Setelah penggerebekan polisi, interogasi, ruang isolasi, dan persidangan, tahanan rumah tampak seperti surga. Tapi tidak lama.

"Anda pikir Anda bisa membaca dan mendengarkan musik, tapi tidak. Ketidakadilan itu, pengetahuan bahwa saya tidak bersalah, membuat saya marah dan terobsesi: saya membuka buku - saya tidak bisa konsentrasi, saya nyalakan televisi dan semuanya hanya lewat saja."

3. Nikmati momen-momen kebebasan meskipun sedikit

Setelah beberapa bulan terkurung di dalam rumah, Natalya diizinkan untuk pergi ke poliklinik (klinik milik dokter). Ia perlu perawatan untuk luka di tulang belakang, yang ia dapatkan dalam perjalanan ke mobil polisi.

Kunjungan ini membantu meningkatkan suasana hatinya. "Saya hanya pergi ke poliklinik, tapi melihat orang lain menjalani hidup mereka membuat saya merasa lebih baik," ujarnya.

"Ketika mereka membiarkan saya untuk berjalan di luar sejauh 500 meter," Yulia Tsvetkova mengingat, "Itu begitu emosional. Seperti kebebasan kecil, tapi ia menegaskan betapa tidak bebasnya saya sebelum itu,"sambungnya.

Sergei sama sekali dilarang jalan-jalan di luar rumah, tapi ia sempat melanggar aturan itu dua kali.

"Di malam hari kadang-kadang, saya menutupi kepala saya dengan tudung dan berlari ke toko di bawah untuk membeli bir. Ketika saya melangkah ke luar, saya merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, seakan-akan saya telah kabur dari penjara,"tandasnya.

4. Berbicara kepada orang-orang tercinta

Di dalam tahanan rumah, pengadilan seringkali hanya mengizinkan Anda berkomunikasi dengan kerabat terdekat. Suami dan anak perempuan Natalya membantunya melalui isolasi.

Belakangan, ia diizinkan berbicara di telepon dan kemudian dikunjungi oleh teman-teman. "Hewan peliharaan juga sangat menghibur," ujarnya.

Pakar teknologi dan aktivis oposisi Alexander Litreyev menciptakan sebuah proyek online bernama De-anonim untuk mengungkap identitas polisi yang memukuli demonstran yang tidak melakukan kekerasan.

Penahanan rumahnya baru saja dimulai. Kawannya, Darya, datang menemuinya setiap hari. "Ia membawakanku makanan enak," katanya, "dan menghiburku."

5.Membaca buku tebal dan menyibukkan pikiran

Hampir semuanya menyarankan untuk membaca. Kirill Serebrennikov merekomendasikan War and Peace, Don Quixote, dan The Kindly Ones. Ia juga menyarankan untuk menulis memoar atau belajar bahasa. Alexander Litreyev menulis puisi dan membuat rencana bisnis untuk proyek baru.

"Yang menyelamatkan saya adalah draughts (sejenis permainan papan -red.)," kata Sergei. "Ayah saya membawakan buku tentang cara bermain draughts dan menang. Saya menghabiskan lima jam sehari untuk berlatih,"urainya.

6. Ingatlah bahwa situasi orang lain mungkin lebih buruk dari Anda

Yulia mengatakan pikirkanlah tahanan politik. "Saya tahu bagaimana rasanya dipenjara tanpa batas waktu. Karantina tidak menakutkan seperti itu,"ujarnya.

Hal terpenting selama isolasi diri, kata Alexei Bushmakov, pengacara Alexander, adalah mengetahui bahwa Anda tidak sendirian dan cepat atau lambat semuanya akan berakhir, dan Anda akan bebas.

(Fahmi Firdaus )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement