Penyebaran virus korona (COVID-19) semakin meluas ke negara diluar China. Uniknya penyakit yang menginfeksi saluran pernapasan ini relatif aman dan tidak menyerang anak-anak.
Keunikan inilah yang menjadi subjek penelitian para peneliti untuk mengetahui bagaimana virus ini bekerja pada manusia. Seperti diketahui, kasus COVID-19 hanya menyerang 2,4 persen anak-anak di China.
World Health Organization (WHO) melaporkan hanya 0,2 dari anak-anak yang kritis akibat terserang COVID-19. Negeri Tirai Bambu tersebut bahkan tidak melaporkan adanya kasus anak kecil yanh meninggal akibat penyakit ini hingga usia 19 tahun.
Melansir dari Washington Post, Rabu (11/3/2020), di sisi lain COVID-19 telah terbukti sangat mematikan berdasarkan spektrum usia. Tingkat fatalitas COVID-19 di China untuk mereka yang berusia di atas 80 tahun diperkirakan 21,9 persen.
Tapi untuk usia 10 hingga 39, tingkat kematian hanya sekitar 0,2 persen. Angka tersebut diperoleh dari studi terpisah yang mencatat pasien dari 44.672 kasus yang telah dikonfirmasi. Selain itu kematian dan gejala parah hampir tidak ada di usia yang lebih muda.

Fenomena ini membuktikan bahwa COVID-19 memiliki perilaku yang berbeda dengan virus lainnya. Meskipun mirip namun COVID-19 berbeda dengan influenza yang sangat berbahaya bagi mereka yang sangat muda dan sangat tua.
“Dengan infeksi pernafasan seperti ini, kami biasanya melihat kurva berbentuk U pada siapa yang paling sering terkena serangan. Anak-anak di satu ujung U karena sistem kekebalan mereka belum berkembang dan orang tua di ujung lain karena sistem kekebalan mereka tumbuh lebih lemah,” tutur seorang Ahli Virologi, Vineet Menachery.
Selain itu Spesialis Penyakit Menular Anak, Frank Esper mengaku sedang mencari tahu mengapa anak-anak sangat tidak terpengaruh terhadap COVID-19?
“Atau mungkin tidak ada hubungannya dengan virus dan justru berhubungan dengan tuan rumah? Seperti kondisi yang mendasarinya di paru-paru, diabetes atau hipertensi. Padahal beberapa anak usia 7 tahun dan bayi baru lahir mengalami hipertensi,” terang Esper.
Wabah serupa sebelumnya juga secara misterius tidak menyerang kaum muda. Tidak ada anak yang meninggal selama wabah SARS yang terjadi pada 2002, dan telah menewaskan 774 orang. Berbeda dengan SARS dan COVID-19 beberapa anak mengembangkan gejala dari MERS yang mematikan.
MERS telah membunuh 858 orang sejak 2012. Untuk mengetahui alasan dari fenomena ini, Menachery telah menggunakan tikus di laboratoriumnya di Texas SARS. Ia menggunakan virus SARS yang merupakan sepupu yang palig dekat dengan COVID-19.
Bayi tikus di labnya berhasil menyingkirkan infeksi, sedangkan tikus yang lebih tua dengan riwayat penyakit paru-paru mengalami kerusakan yang lebih parah akibat penyakit tersebut.

Menachery menemukan bahwa kematian tikus yang lebih tua sangat terkait dengan tidak hanya kelemahan dalam sistem kekebalan tubuh tetapi juga disregulasi. Kondisi ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh mereka bereaksi berlebihan terhadap virus SARS.
“Fenomena ini mirip dengan bagaimana manusia meninggal karena infeksi dari COVID-19, yang disebut SARS-CoV-2. Ini disebabkan karena respon agresif dari sistem kekebalan tubuh mereka yang merusak. Bahkan sifatntnya lebih dari infeksi itu sendiri," kata Menachery.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.