Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pasien Positif Korona RSPI Bisa Main HP, Kemenkes: Kami Tak Isolasi Sosial Mereka

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Rabu, 04 Maret 2020 |13:33 WIB
Pasien Positif Korona RSPI Bisa Main HP, Kemenkes: Kami Tak Isolasi Sosial Mereka
Jubir Penanganan Korona Achmad Yurianto (Foto : Sukardi/Okezone)
A
A
A

Pasien COVID-19 di RSPI Sulianti Saroso tengah menjalani masa isolasi setidaknya 10 hari setelah dia dinyatakan positif. Kondisi mereka saat ini dikabarkan jauh lebih baik dari sebelumnya.

Berdasar informasi Kementerian Kesehatan, kedua pasien ini tidak lagi menunjukan gejala COVID-19. Meski begitu, mereka tetap harus menjalani masa isolasi untuk memastikan status kesehatannya.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian penyakit Kemenkes RI yang kini ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Juru Bicara Penanganan Virus Korona, Achmad Yurianto menceritakan, saat dirinya melihat langsung dua pasien COVID-19 ini, pasien berusia 64 tahun sedang membaca majalah, sedangkan pasien berusia 31 tahun sedang main hp.

Hal ini sempat dipertanyakan, kenapa pasien isolasi tetap boleh menggunakan ponsel?

Yuri menerangkan, hal itu karena pihak rumah sakit dan Kementerian Kesehatan hanya mengisolasi fisik mereka, bukan mengisolasi sosialnya.

"Terkait penggunaan HP, ya, nggak apa-apa. Kami mengisolasi dia dalam konteks isolasi fisik dengan maksud agar dua pasien ini tidak melakukan kontak dengan orang lain. Kami tidak melakukan isolasi sosial pada mereka," terang Yuri saat ditemui rekan media di Kantor Kemenkes, Selasa (3/3/2020).

Kemenkes

Memperbolehkan orang yang diisolasi atau diobservasi bermain hp dikatakan Yuri berkaca dari apa yang terjadi pada warga negara Indonesia (WNI) dari Wuhan, China. Mereka ini setelah sampai di Natuna kesulitan berkomunikasi dan ini membuat banyak orangtuanya komplen.

"Di hari pertama dan kedua, Kemenkes dikomplen banyak orangtua WNI yang ada di Natuna. Sebab, saat belum sampai di Indonesia, anak-anak mereka masih bisa dihubungi, tapi setelah sampai di Natuna, kok malah susah, ada apa?" tuturnya.

Setelah diselidiki, ternyata WNI di lokasi observasi Natuna itu tidak memiliki nomor GSM Indonesia. Setelah tahu itu masalahnya, Kemenkes kemudian memberikan mereka nomor Indonesia dan bisa berkomunikasi lagi dengan keluarga.

"Ingat, ya, kami melakukan isolasi fisik dengan tujuan agar mereka tidak melakukan kontak dengan orang lain. Kami tidak membatasi sosial mereka," tegasnya.

Hal ini juga berlaku untuk ABK World Dream yang sekarang sedang menjalani observasi di Pulau Sebaru Kecil, Kepulauan Seribu. "Setelah mereka mendarat di pulau, kami langsung kasih kartu GSM Indonesia," pungkas Yuri.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement