Banyak pasien kanker asal Indonesia yang memilih berobat ke Singapura. Pernyataan ini disampaikan oleh Ahli dan Pemerhati Kanker, Prof. Dr. dr. Soehartati A Gondhowiardjo, SpRad(K), OnkRad.
"Salah satu pasien saya dari Inggris istrinya orang indonesia. Dia sakit kanker mulut. Dia marah sekali melihat banyak orang Indonesia berobat ke Singapura. Bahkan kata resepsionis di salah satu rumah sakit di Singapura, 80 persen pasiennya itu dari Indonesia," ungkapnya saat ditemui dalam acara Diskusi Nasional 'World Cancer Day 2020, di RS Dharmais, Jakarta Barat, Kamis (6/2/2020).

Hal ini sontak menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat terkait pelayanan dan fasilitas pengobatan kanker di Tanah Air. Apakah benar penanganan pasien kanker di Singapura jauh lebih baik dibanding Indonesia?
Namun menurut penjelasan Soehartati, Indonesia juga bisa melakukan treatment pengobatan seperti yang dilakukan Singapura. Hanya saja, memang ada beberapa faktor pemicu yang membuat masyarakat lebih tertarik berobat ke luar negeri.
Salah satunya terkait berita hoax yang sering berseliweran di media sosial hingga group whatsapp keluarga. Akibat kesalahan informasi ini, banyak pasien yang telat untuk berobat.
"Kalau penyakit lain telat dikit mungkin masih tidak apa-apa, kalau kanker bagaimana? Datang-datang tumornya udah gede banget. Semakin lama penanganan, semakin buruk keadaan, dan biayanya semakin tinggi. Saya rasa banyak yang keluar negeri karena kurang informasi saja," tegas Prof Soehartati.
Namun di sisi lain, Prof Soehartati menilai bahwa pemerintah juga harus segera mendirikan pelayanan kanker terpadu demi menanggulangi isu kesehatan ini.
"Setiap daerah harus punya pelayanan kanker terpadu yang salah satu kegiatannya adalah pelayanan multi disiplin. Karena itu kan bukan penyakit yang bisa diselesaikan oleh satu dokter," ungkapnya.
Dia kemudian memberikan contoh paling sederhana tentang penanganan pada pasien kanker payudara. Pengobatan kanker ini sejatinya membutuhkan treatment yang cukup panjang.
Bahkan, bila pasien telah dinyatakan sembuh, mereka masih harus melakukan pengecekan secara rutin, seumur hidupnya. Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitas dan tenaga ahli yang mumpuni, termasuk pusat pelayanan kanker terpadu sebagai salah satu informasi bagi masyarakat awam.
(Dyah Ratna Meta Novia)