FENOMENA prostitusi online menjadi perbincangan banyak orang. Kasus ini kembali mencuat setelah artis FTV Vanessa Angel terciduk kepolisian Jawa Timur melakukan hal tersebut dengan bayaran Rp 80 juta (short time).
Padahal, dalam berita Okezone sebelumnya, diterangkan Psikolog Meity Arianty, STP, M.Psi, tindakan ini sudah ada sejak zaman Soeharto. Pada saat itu, artis-artis biasanya digunakan untuk melayani tamu.
Alasan finansial menjadi landasan mereka berani untuk melakukan hal tersebut. Psikolog yang biasa disapa Mei juga menambahkan bahwa bekerja sama dengan artis itu biasanya lebih mudah. "Sebab, kedua belah pihak sama-sama tahu tujuannya apa," paparnya.
Baca juga:
Kemudian, dengan berbekal title artis, seseorang ini akan lebih mudah menentukan harga yang diinginkan. Sosok panutan dan idola banyak orang menjadi nilai plus para pelaku bisnis ini. "Pembelinya" pun akan cukup bangga memesan si artis.
"Ya, karena mereka artis, makanya mungkin harganya bisa cukup tinggi. Sebab, mereka punya popularitas yang mungkin tidak dimiliki orang lain," ungkap Psikolog Mei. Selain itu, beberapa artis juga dianggap punya daya pikat yang kuat.
Lalu, bagaimana fenomena ini kemudian bergeser dari yang dulunya mangkal pinggir jalan dan sekarang tinggal jentikkan jari di layar ponsel?
Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Devie Rahmawati menjelaskan bahwa media internet menyediakan keleluasaan yang sangat longgar dan keuntungan lainnya adalah pelaku bisnis tidak harus menggunakan identitas asli.
Pergeseran tren ini juga dikaitkan dengan masih adanya stigma yang kuat di masyarakat kita. Mereka yang berdiri di pinggir jalan dan menunggu pelanggan datang dianggap buruk di mata masyarakat.
Sementara itu, sekali pun pekerjaan yang dilakukan sama, tapi ketka dilakukan di ruang internet, tidak akan ada orang yang tahu dan ketakutan akan stigma itu pun akhirnya sirnah.
Bicara mengenai kenapa artis mau melakukan pekerjaan ini?
Devie menjelaskan bahwa tidak sebatas artis, masyarakat biasa pun melakukannya. Bahkan, mereka tetap dengan status di lingkungannya dan tidak mengubah apa-apa.
"Seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap pun bisa saja menjadi bagian dari prostitusi online, bilamana dia memiliki kebutuhan yang urgent untuk dipenuhi," terang Devie dalam pemberitaan Okezone.
Fakta studi khususnya di barat, sekarang itu orang yang melakukan praktik ekonomi bawah tanah, dalam kasus ini adalah pekerja seks komersial, sangat beragam latar belakang usia dan pekerjaannya.
"Karena itu, banyak sekali orang part-timer dengan menjadi PSK, artinya dia punya pekerjaan lain tapi ketika dia membutuhkan dana atau apa, ini yang membuat dia menjajakan diri secara mandiri seperti tadi, mendapatkan uang dan kemudian dia kembali ke profesinya," tambahnya lagi.
Kemudahan ini yang menjadi "keuntungan" dari bisnis prostitusi online. Bahkan, Devie juga menjelaskan bahwa para pelaku tidak membutuhkan manager atau bahkan muncikari untuk bisa menjajakan diri. Sebab, semua bisa di-handle seorang diri.
(Renny Sundayani)