LAYAKNYA Chinese food, kebab tidak dipungkiri juga menjadi salah satu makanan asing yang bisa dengan mudah ditemui di mana-mana dan menjadi andalan banyak orang ketika sedang traveling ke suatu negara.
Kebab biasanya menjadi andalan kudapan di malam hari atau biasa disebut late-night snack banyak orang, karena lezat, mudah didapat, mengenyangkan namun tidak terlalu berat.
Namun sayangnya, sepertinya kini kehadiran kebab akan susah ditemukan di wilayah Eropa. Ada apakah gerangan? Pasalnya, sebagaimana diwarta Foodbeast, Selasa (12/12/2017) pemungutan suara Parlemen Eropa (European Parliament) pekan ini dapat menghasilkan sebuah keputusan yakni pelarangan doner kebab di Uni Eropa. Terkait dengan kemungkinan ini, maka wajar saja membuat para vendor penjual kebab pun menjadi sedih.
BACA JUGA:
Lebih lanjut, resolusi usulan tentang pelarangan kebab di Uni Eropa ini diajukan oleh kelompok Socialist and Green sehubungan dengan pengaturan penggunaan fosfat dalam daging kebab. Baru-baru ini usulan yang sama pun diajukan, menyangkut processed meat atau olahan daging seperti sosis.
Sehubungan dengan fosfat atau phospates sendiri, secara teknis memang sudah dilarang penggunaannya di Uni Eropa, namun karena sifatnya baru larangan bukan penegakan maka dari itu tampaknya proposal usulan baru inilah yang ditujukan untuk lebih ke arah penegakan.
Saat ini Uni Eropa disebutkan memang belum memiliki alternatif pengganti pengikat fosfat di dalam daging kebab. Sementara itu, laporan dari BBC menyebutkan bahwa zat additive ini berhubungan dengan penyakit kronis seperti ginjal dan juga penyakit jantung. Para vendor penjual disebutkan sebenarnya tidak membutuhkan banyak pemakaian fosfat hanya dengan maksud membuat daging tetap juicy dan menampung air, dengan hanya menambahkan satu gram fosfat ke dalam 10 kilogram daging.
BACA JUGA:
Terkait dengan adanya kemungkinan pelarangan kebab di Uni Eropa ini, beberapa dari vendor penjual kebab menyebutkan bahwa Uni Eropa telah melakukan diskriminasi, lebih tepatnya "doner discrimination". Makanan kebab memang populer luas di Uni Eropa, khususnya Jerman yang awalnya dipopulerkan oleh imigran Turki di wilayah Berlin, salah satu pemilik toko menilai pelarangan ini akan menyakiti bisnis para orang Turki.
Resolusi pelarangan ini setidaknya akan berefek pada 200.000 pekerjaan, serta penjualan jutaan kebab per harinya akan dilarang sampai adanya keputusan akhir apakah pemakaian fosfat akan ditarik dari daging atau ada peraturan lain yang berubah. Diketahui lebih lanjut Parlemen Uni Eropa sendiri akan memutuskan pemungutan suara sekiranya di pekan ini.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.