BHUTAN dikenal dengan wisata alam, wisata petualangan, dan wisata budayanya. Budaya kerajaan dan kealamian hutannya pun menjadi daya tarik bagi para turis.
Karena kebijakan pariwisata yang unik di Bhutan, kerajaan Buddha di Bhutan selalu menjadi incaran para turis. Kebijakan dari pemerintah Bhutan dalam bidang pariwisata adalah mewajibkan pengujung membayar biaya tetap sebesar USD200-250 atau setara dengan Rp2,7 juta – Rp3,4 juta per hari sebagai pengeluaran minimum.
Sehingga para wisatawan datang dan mengikuti jadwal perjalanan yang ketat, khususnya mereka datang ke biara-biara Buddha yang ada di sekitar ibu kota, Thimphu.
Di Bhutan, sebagian besar wilayah yang dibuka untuk pariwisata ada di bagian selatan. Sementara di bagian timur hanya dikunjungi oleh beberapa pengunjung. Sedangkan di sebagian besar daerah lainnya tidak terlihat kunjungan wisatawan sama sekali.
Salah satunya adalah Suaka Margawatwa Sakteng yang berada di Trashigang Dzongkhag. Taman yang berada di ujung timur Bhutan ini didirikan untuk melestarikan padang rumput pegunungan dan tempat untuk mengintai Migoi, sejenis manusia salju menyeramkan. Namun sudah berbulan-bulan berlalu tanpa seorang turis pun yang masuk ke sana.
Untuk mendatangkan lebih banyak wisatawan, maka kerajaan Bhutan membuka sejumlah wilayah untuk kepentingan pariwisata. Salah satu proyek yang dibuka untuk wisata adalah sebuah hutan warisan, Pemacholing Heritage Forest. Hutan ini berfungsi melindungi gletser hutan Himalaya di dekat kota Dhampu di Tsirang Dzongkhag yang terletak di dekat perbatasan dengan Assam di bagian selatan.
Di Pemacholing Heritage Forest, menurut survei yang dilakukan baru-baru ini, telah memiliki banyak satwa liar, termasuk harimau Bengal. Sementara di dalam cagar alamnya terdapat vihara kuno dan reruntuhan dzong (benteng kerajaan) dari abad pertengahan.
Pembukaan hutan warisan ini diharapkan menjadi yang pertama dari 20 project yang akan dilakukan di seluruh negeri. Hal ini dilakukan untuk menarik kunjungan wisatawan ke daerah-daerah lain yang selama ini tak tersentuh wisatawan.
Selain itu, dengan dibukanya hutan-hutan warisan tersebut, diharapkan penduduk lokal memiliki pendapatan alternatif. Sehingga mereka tak perlu menebang pohon di hutan dan merusaknya. Demikian dilansir dari Lonelyplanet, Selasa (3/10/2017).
(Vien Dimyati)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.