Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

SHARE LOC: Kisah Kengerian Mahluk Penunggu Sumur Tua hingga Batu Selebar Meja Menghadap Kiblat di Hutan Belantara Bengkulu

Demon Fajri , Jurnalis-Rabu, 30 Agustus 2017 |13:33 WIB
SHARE LOC: Kisah Kengerian Mahluk Penunggu Sumur Tua hingga Batu Selebar Meja Menghadap Kiblat di Hutan Belantara Bengkulu
Sumur Batu Zaman Penjajah (Foto: Demon Fajri/Kontributor)
A
A
A

Kabupaten di Indonesia memiliki berbagai potensi wisata alam, tersendiri. Salah satunya di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Di daerah ini bukan hanya memiliki obyek wisata air terjun, bunga raksasa atau Amorphophallus Titanum Becc dan Amorphophallus Gigas.

Namun, di kabupaten yang berbatasan dengan Sumatera Selatan ini, memiliki potensi wisata sejarah yang patut untuk disambangi kalangan traveller atau pelancong. Apa itu? obyek wisata itu, bernama 'Sumur Batu'. Konon, sumur batu itu peninggalan zaman penjajahan.

BACA JUGA:

Destinasi wisata satu ini berada di hutan desa Taba Padang Kecamatan Seberang Musi Kabupaten Kepahiang. Tepatnya dideretan bukit barisan, Bukit Dendan atau berada diantara lembah Bukit Pacat dan Bukit Batu, Desa Taba Padang.

Dari nama obyek wisata ini tergolong, aneh. Pasalnya, sumur yang berada didataran hutan desa seluas sekira 2 hektare (Ha) tersebut terbuat dari batu dengan kedalaman sekira 2 meter.

Konon, sumur batu berdiamater sekira 2 meter tersebut dibuat dengan cara dipahat, menggunakan benda tajam pada zaman penjajahan. Kondisi itu terlihat pada struktur bangunan sumur yang tidak beraturan.

Diketahui, sekira tahun 1984-an, sumur tua itu memiliki ketinggian sekira 3 meter lebih atau setinggi bangunan pondok kebun. Namun, saat ini sumur yang memiliki air warna hijau lumut tersebut sudah setara dengan tanah.

Diduga, hal tersebut dirusak oleh orang tidak dikenal (OTD). Untuk mencari harta karun peninggalan zaman penjajahan yang tersimpan didalam sumur tua.

Kondisi itu, diperkuat dengan bekas galian lobang dibagian samping sumur, pada sisi kiri dan kanan sumur. Bekas galian itu itu berdiamater sekira 1 meter hingga 1,25 meter.

Sebelumnya, sumur tua itu hanya memiliki mata air dibagian atas. Dengan diamater sekira 10 cm hingga 15 cm atau setara dengan telapak tangan orang dewasa.

Dimana kala itu, mata air dapat dilihat dengan cara menaiki anak tangga setinggi sekira 3 meter. Bahkan, saat dicoba dibersihkan dengan kain air tetap mengalir dan mengeluarakan air yang jernih. Mirip dengan batu sedang menangis.

Tidak diketahui persis, kapan bangunan sumur tua yang berada di perbatasan Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Bengkulu Tengah itu dibuat. Sebab, sejak ditemukan puluhan tahun lalu sumur tersebut sudah berdiri kokoh.

Bahkan, di lokasi yang diduga menjadi tempat penyimpanan harta karun zaman penjajahan tersebut, diketahui terdapat landasan helikopter dan bandara mini untuk pendaratan pesawat mendarat, pada kala itu.

Lokasi sumur ini pun masih asri sehingga udara disekitar sini masih sejuk. Hal ini ditandai dengan berbagai jenis tumbuhan hutan serta pepohonan yang menjulang tinggi. Baik disisi kiri maupun disisi kanan kawasan sumur batu.

Untuk menyambangi obyek wisata sumur batu itu, traveller musti menempuh perjalanan sekira 4 jam perjalanan darat dari Kota Bengkulu atau setara dengan 100 kilometer (km). Dengan cara menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat menuju kabupaten yang memiliki moto 'kerja, kerja, kerja'.

Setiba di Desa Tebat Monok Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Desa Taba Padang Kecamatan Seberang Musi, dengan memakan waktu perjalanan sekira 30 menit atau berjarak sekira 8 km.

Dari desa yang memiliki 110 kepala keluarga (KK) ini, traveller mesti berganti kendaraan roda dua yang telah dimodifikasi atau sepeda motor trail. Caranya, menggunakan jasa ojek warga setempat.

Dari pusat desa itu pun, perjalanan kembali dilanjutkan ke kawasan hutan desa dengan jalan yang masih tanah kuning, dengan melintasi jalan setapak di kerimbunan hutan belantara.

Sebelum tiba di lokasi, traveller akan menikmati perjalanan yang tak akan terlupakan!. Bagaimana tidak?, jalur yang ditempuh tersebut tarveller akan menemui beberapa tebing dengan kemiringan 80 derajat, yang tentunya akan memacu adrenalin Anda.

Disepanjang jalan itu pula traveller akan disuguhi pemandangan nan indah. Dengan hutan pinus serta tanaman hutan yang masih asli. Tentunya, membuat suasana menjadi lebih sejuk dengan udara yang segar.

Usai merasakan sensasi perjalanan sekira satu jam, traveller akan tiba di salah satu kawasan perkebunan milik warga setempat, guna memarkirkan sepeda motor. Dari lokasi itu traveller mesti berjalan kaki sekira 30 menit, dengan memasuki kawasan hutan yang masih ditumbuhi tanaman asli hutan lindung.

Setelah lelah menempuh perjalanan cukup panjang, traveller akan tiba di lokasi bangunan sumur tua, yang memiliki air warna hijau lumut, yang diketahui merupakan peninggalan zaman penjajahan.

(Caption Foto: Lobang Bekas Digali OTD Sumur Batu/ Demon Fajri)

Kepada Okezone, salah satu warga setempat Heri Susanto (38) mengisahkan, sumur batu itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Dirinya, tidak mengetahui persis siapa yang pertama kali menemukan sumut batu tersebut.

"Saat saya masih kecil, sumur batu ini hanya dapat dijangkau dengan menggunakan tangga. Dibagian atas sumur terdapat mata air sebesar telapak tangan, yang air-nya mengalir terus menerus,"kata Heri, saat ditemui belum lama ini.

Heri kembali bercerita, kondisi bangunan sumur saat ini sudah berubah pada saat dirinya masih kecil. Dimana, kondisi sumur sudah berlobang besar dengan diameter sekira dua meter.

Diduga kondisi itu dirusak oleh OTD, dengan cara menghancurkan bangunan sumur batu, untuk mencari sesuatu yang berharga.

"Sumur ini tinggi. Kondisi sekarang sudah berubah saat pertama kali saya melihat," aku Heri.

Kejadian Aneh di Sumur Tua hingga Makhluk Penunggu Sumur Batu

(Caption Foto: Sumur batu di kawasan hutan Desa Taba Padang/ Demon Fajri)

Sumur tua di hutan desa yang berada di bukit barisan ini, masih menyimpan misteri. Tidak hanya itu, sumur batu itu diketahui dijaga makhluk kasat mata. Bahkan, berbagai kejadian aneh pun sempat terjadi di daerah itu.

Mulai dari terdengar suara memanggil nama seseorang yang berada di kawasan itu. Hingga, suara masyarakat yang sedang menggelar pesta dengan diiringi alat musik.Salah satu warga setempat, Heri Susanto (38) membenarkan adanya mahluk halus yang menghuni sumur tersebut.

Ia berkisah, dirinya sempat mengalami kejadian aneh saat menginap di pondok kebun di wilayah itu. Dimana kala itu, ia dipanggil oleh seseorang dari luar, namun saat dicek, ternyata tidak ada orang sama sekali. Sementara, kata dia, tidak ada seorang pun menghuni lokasi areal perkebunan.

 BACA JUGA:

"Nama saya sempat dipanggil seseorang. Saat dicek sama sekali tidak ada orang. Sejak kala itu, ketika menginap jika ada yang memanggil saya diamkan saja,'' sampai Heri, saat ditemui okezone, belum lama ini.

Ia pun melanjutkan bercerita, pada saat malam jumat, di areal tersebut terdengar suara orang ramai. Seperti, masyarakat yang sedang menggelar hajatan serta suara alat musik yang dimainkan.

Sementara, di kawasan tersebut sama sekali tidak dihuni masyarakat dan hanya hutan belantara dan tanaman perkebunan milik warga, yang masuk dalam kawasan hutan desa. "Setiap malam Jumat terdengar suara masyarakat, yang sedang mengelar hajatan,"ulas Heri.

Kengerian di lokasi tersebut tak hanya itu saja, Heri sempat alami luka robek dibagian betis. Dimana waktu itu dirinya takabur dengan mengucapkan hal-hal yang tidak wajar. "Kalau memang ada penghuni sumur ini. Datangi saya nanti malam,'' ucap Heri meniru perkataannya waktu itu.

Seketika itu juga, terang dia, parang yang ia pegang tidak sengaja melibas betis sebelah kanan. Sehingga Heri mengalami luka robek dengan 12 jahitan. "Saat kejadian itu, saya tidak bisa berjalan. Untuk mengobati luka saya berjalan merangkak cukup jauh untuk menuju puskesmas," kenang Heri.

Kejadian-kejadian aneh itu, lanjut dia, memang benar-benar terjadi di daerah sumur tua. Namun, dirinya tidak mengetahui secara persis kisah atau sejarah dari sumur batu. Selain itu, terang dia, penelitian pun belum ada sama sekali dilakukan di kawasan tersebut. "Saya hanya mendapatkan cerita soal daerah itu dari orangtua saya," demikian pungkas Heri.

Menyambangi Lokasi Batu Selebar Meja Menghadap Kiblat

Di kawasan hutan desa atau diantara lembah bukit pacat dan bukit batu, bukan hanya memiliki obyek wisata sumur batu. Di wilayah ini juga terdapat sebuah batu bertuliskan huruf kaganga jawa kuno.

Tulisan itu ditulis diatas batu berukuran cukup besar, tak jauh dari lokasi sumur batu atau berjarak sekira 100 meter sebelum lokasi sumur batu. Penemuan itu ditemukan pada puluhan tahun silam. Namun, sejak ditemukan tidak diketahui persis apa tulisan yang tertulis diatas batu berukuran sekira 1 meter tersebut.

Konon, batu tulisan kaganga itu peninggalan zaman penjajah kala itu di kawasan hutan yang berada di perbatasan Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Bengkulu Tengah.

Posisi batu itu, berada didalam lobang dengan kedalaman sekira satu meter. Tidak hanya itu, posisi batu tersebut dalam keadaan miring dan tertimbun tanah.

(Caption Foto: Batu Selebar Meja Menghadap Kiblat/ Demon Fajri)

Menurut cerita, sebelum posisi batu didalam lobang. Pada kisaran tahun 1984-an, batu tersebut berada dibagian bawah batu selebar meja yang menghadap kearah kiblat. Dimana batu datar selebar meja tamu itu berada di posisi atas batu bertuliskan huruf kaganga.

Kepada Okezone, warga setempat, Heri Susanto (38) menceritakan, batu bertuliskan huruf kaganga itu cukup banyak ditulis diatas batu. Namun, dirinya tidak mengetahui secara persis apa arti dari tulisan dibatu tersebut.

Selain itu, posisi batu tersebut sudah berubah posisi dari posisi semula. Sebab, kata Heri, batu itu berada dibawah batu selebar meja yang berukuran sekira panjang 1 meter dan lebar sekira setengah meter.

(Caption Foto: Batu Bertulis Huruf Kaganga

"Batu bertuliskan huruf kagangan berada dibawah batu selebar meja. Batu sebesar meja itu menghadap kearah kiblat, "ucap Heri, saat ditemui Okezone.

Namun, dirinya tidak mengetahui secara pasti batu yang berada di lokasi tersebut. Apakah peninggalan zaman penjajahan atau peninggalan zaman kerajaan. Ia hanya mendapatkan, cerita jika di daerah itu merupakan lokasi penyimpanan harta zaman penjajahan.

"Setahu saya ini peninggalan zaman penjajahan. Namun, pastinya saya tidak tahu persis, "pungkas Heri.

(Renny Sundayani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement