SANITASI yang layak tentu mengurangi faktor risiko penyebaran penyakit. Sayangnya, beberapa wilayah di Indonesia masih mendapat sorotan mengenai sanitasi yang belum layak.
Dr Imran Agus Nurali, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, mengungkapkan, berdasarkan data dari STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) Smart, terdapat 68,06 persen Kepala Keluarga yang mendapatkan sanitasi layak dari sekira 75 juta kepala keluarga di Indonesia. Sisanya, masih belum mendapatkan sanitasi layak.
Penduduk di area sanitasi perlu mendapat informasi mengenai efek negatif dari sanitasi yang kurang layak. Dampak yang ditimbulkan dari sanitasi buruk adalah terjadinya beberapa penyakit menular.
"Diare, cacingan, di daerah tertentu bisa hepatitis, tifoid, yang sifatnya akut penyakitnya dan bisa diobati. Tapi yang jangkanya kronis dan lama biasanya pada balita, dimulai dari ibu hamil," jelas Imran di Gedung Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/3/2017).
Sanitasi buruk juga berdampak pada kondisi stunting. Imran menjelaskan sanitasi buruk terjadi pada kerusakan dinding usus yang mengganggu penyerapan zat gizi makanan. Hal ini berdampak pada gangguan tumbuh kembang pada bayi dan balita, sehingga berakibat stunting.
Terhitung, di Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2013 prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2 persen. Ternyata tidak hanya akibat gizi buruk,stunting diketahui sebagai dampak dari sanitasi buruk.
"Sebelumnya (stunting) disangka karena kurang gizi, tapi hasil survei akibat dari sanitasi yang jelek. Bukan sekadar diare dan diobati sembuh, tapi stunting jangka panjang akan memengaruhi kualitas anak Bangsa Indonesia," pungkasnya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.