Advertisement
Advertisement

Museum Tsunami Aceh, Karya Abadi Anak Bandung

Salman Mardira , Jurnalis-Minggu, 27 Desember 2015 |11:45 WIB
Museum Tsunami Aceh, Karya Abadi Anak Bandung
Museum Tsunami Aceh (Foto: Helmi/Okezone)
A
A
A

MUSEUM Tsunami Aceh termasuk situs paling populer yang banyak dikunjungi wisatawan di Banda Aceh. Namun tahukah anda kalau pembangunan museum ini banyak melibatkan orang Jawa Barat.

Bangunan ini merupakan karya besar Ridwan Kamil. Wali Kota Bandung itulah yang mendesain arsitektur museum ini.

Tapi Kang Emil tak sendiri. Ahli struktur bangunanya, tukang, hingga material seperti batu pualam ternyata juga berasal dari Jabar.

"Ini banyak terlibat tangan-tangan orang Bandung, orang-orang Sunda yang memang sangat menghormati orang Aceh," kata Ridwan Kamil saat menghadiri peluncuran buku Peradaban Cahaya karya fotograger Bedu Saini di Museum Tsunami Aceh, Sabtu 26 Desember 2015.

"Jadi mudah-mudahan (Museum Tsunami) ini bisa menjadi simbol persahabatan dua suku bangsa ini," lanjut arsitek senior itu.

Emil berharap museum hasil rancangannya ini bisa menjadi karya abadi yang bermanfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.

"Kalau saya sudah tiada nanti minimal orang tau bahwa ada seorang anak dari Bandung yang mendesain arsitektur ini," ujarnya.

RK berkisah awal mula ikut sayembara internatioal mendesain Museum Tsunami Aceh, hingga menang dan berhasil menyisihkan 300 karya arsitektur peserta lainnya.

Karya Emil bernama "Rumoh Aceh Escape Hill" yang memadukan konsep rumoh Aceh dan bukit penyelamatan akhirnya direalisasikan pembangunananya.

Desainnya meliputi bukit yang dibawahnya terdapat ruangan berfungsi untuk pengingat bencana tsunami, kemudian ruangan di atas bukit diperuntukkan sebagai ruang pembelajaran, dan atasnya sebagai tempat penyelamatan saat tsunami.

Menurutnya hal itu penting agar masyarakat dan generasi mendatang bisa belajar tentang tsunami di museum ini.

"Suatu saat nauzubillah kala ada bencana lagi, anak cucu kita lebih siap dari pendahulu-pendahulunya karena sudah punya ilmu," ujarnya.

Ridwan ingin Museum Tsunami tak menakutkan, seperti kebanyakan museum lain di Indonesia.

"Hampir semua museum di Indonesia itu dikasih pagar yang tinggi, ada satpamnya yang menakutkan datangnya hanya weekend. Memang membosankan."

Sebenarnya, kata dia, di dalam desainnya Museum Tsunami tak ada pagar alias jadi monumen terbuka, agar bisa jadi tempat nongkrong dan emperannya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan anak muda.

"Semakin banyak kegiatan positif dibuat di sini, semakin museum ini memiliki rohnya," kata Emil.

Dia mengakui dari seratusan proyek yang dirancangnya baik di dalam maupun luar negeri, mendesain Museum Tsunami adalah paling sulit secara emosional.

Dia tak kuasa menahan tangis saat merancang arsitektur museum fenomenal ini. "Waktu mendesain kaligrafi Allah dipuncaknya itu berkali-kali tersendat."

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement