42 finalis Dokter Cilik Award 2015 dari Sabang sampai Merauke sedang menjalani karantina di Jakarta. Mereka dibekali beberapa materi menyenangkan yang berkaitan dengan pendidikan seksual dan kesehatan.
Sebelum menjadi agent of change di daerah asalnya, mereka juga diajak melakukan kegiatan outbond untuk membentuk sifat kepemimpinan. Karantina itu dilakukan selama tiga hari di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan.
"Para dokter cilik ini kami bekali materi pendidikan seks usia dini, piramida makanan, P3K dan hand hygiene," ucap Penanggung Jawab Dokter Cilik Award 2015 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Tirta Prawitasari kepada Okezone di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2015).
Istri dari Ketua IDI dr Zaenal Abidin menambahkan, penyelenggaraan Dokter Cilik Award tahun lalu tentu berbeda dengan tahun sekarang. Tim dari IDI memberi tambahan materi kepemimpinan agar mereka lebih mampu memberi contoh kepada teman-teman di sekolahnya.
"Kalau tahun lalu kan sifatnya lebih ke perlombaan. Sekarang sifatnya sekolah kepemimpinan. Ini juga materi tambahan dari kita, karena di modul Kementerian Kesehatan tidak ada," papar dia.
Pada kesempatan sama, dijelaskan Psikolog Penny MPsi, pemilihan materi pendidikan seks usia dini dibuat agar mereka mengenal beberapa daerah sensitif, yang tak boleh diperlihatkan kepada orang lain. Ini juga ditujukan untuk mencegah kekerasan seksual pada anak yang marak terjadi di Indonesia.
"Kita kenalkan kepada para dokter cilik apa itu daerah segitiga yang menjadi area privasi, yaitu dada, perut, alat kelamin dan pantat. Misalnya kalau ada orang lain yang mendekati dia jangan boleh memegang daerah segitiga itu. Kami ajarkan juga untuk teriak, lapor dan lari kalau suatu saat mereka mengalami itu," jelas Penny.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.