Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Festival Barongan Nusantara Banyuwangi

Helmi Ade Saputra , Jurnalis-Senin, 12 Oktober 2015 |11:10 WIB
Festival Barongan Nusantara Banyuwangi
Festival Barong Nusantara di Banyuwangi (Foto: Nurul Arifin)
A
A
A

APA jadinya jika bermacam-macam Barong berkumpul di satu festival seperti pada Festival Barongan Nusantara di Banyuwangi.
 
Festival Barongan Nusantara digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2015 ini dimeriahkan 500 penampil. Sebelum tampil, acara diawali dengan Ruwatan Barong Dandang Wiring.
 
Dalam prosesi tersebut, barong yang ditutupi kain putih ditandu empat orang untuk dimandikan, disandingin peras (uba rampe yang biasanya digunakan orang pada hajatan besar), diasapi dan dibacakan mantra.
 
Kemudian, di belakangnya terdapat 40 Gandrung beserta 20 lelaki pembawa umbul-umbul yang mengiringi Barong Dandang Wiring.
 
Setelah prosesi tersebut, barong dari seluruh pulau Jawa dengan nama berbeda-beda, yaitu Barong Bali, Reog Ponorogo, Gembong Amijoyo dan Barong Rontek Singo Ulung (Bondowoso) tampil di Jalan Protokol Banyuwangi.
 
Alhasil, penari yang memakai boneka dengan kepala menyeramkan dan taring menyerupai tokoh jahat ini menyedot perhatian masyarakat. Ribuan masyarakat Banyuwangi memadati sepanjang jalan protokol untuk menyaksikan Festival Barong Nusantara.
 
 
Pawai Barong yang dilepas Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas di depan kantor Pemkab ini diawali dengan munculnya atraksi Barong Rontek Singo Ulung. Setelah itu, muncullah barong kebanggaan masyarakat setempat, yakni Barong Kumbo. Kemunculan Barong Kumbo raksasa diikuti oleh atraksi Kucingan yang disambut meriah oleh ribuan penonton.
 
Ditambah lagi langsung disusul Barong Bali yang penampilannya diiringi oleh alat musik pukul rancak dan segerombolan leak, alhasil suasana kian meriah. Setelah Barong Bali, giliran Barong Osing dan Barong Prejeng dengan sekumpulan burung serta pitik-pitikan yang ujuk gigi dihadapan penonton. Di bagian akhir, giliran Reog Ponorogo bersama Ganongan yang membius ribuan penonton lewat fragmen peperangan “Geger Bumi Lodaya” menutup festival ini.
 
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, Pemkab Banyuwangi akan terus memberikan ruang bagi seniman dan budayawan Banyuwangi untuk beraktualisasi. Di antaranya melalui gelaran Festival Barongan Nusantara ini.
 
“Banyuwangi itu mempunyai banyak barong. Lewat festival ini kami ingin memunculkan sejarah tentang barong yang selalu mengingatkan kita akan jati diri bangsa. Semoga event ini menjadikan Barong Banyuwangi terus berkembang dan tetap lestari,” ujar Anas kepada Okezone, Senin (12/10/2015).
 
 
Sementara itu, barong sendiri pada mitologi Banyuwangi digambarkan dalam bentuk makhluk raksasa berkepala besar dengan mata melotot dan taring keluar.
 
Masyarakat suku asli Banyuwangi, Osing menyakini barong sebagai penolak bala yang berkembang sejak dahulu sampai sekarang.
 
Selain itu, suku Osing memaknai barang sebagai simbol kebersamaan. Oleh karena itu, hampir di setiap ritual masyarakat Banyuwangi selalu menghadirkan atraksi barong.

(Johan Sompotan)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement