DALAM usianya yang baru satu tahun, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dinilai belum memenuhi standar. Hal ini pun diakui oleh Veronica Tan selaku Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) DKI Jakarta. Terlebih pelayanan penanganan terhadap pasien kanker.
Istri dari Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menilai, ketidaksiapan BPJS menjadi kendala dalam pelayanan kesehatan, khususnya untuk penyakit kanker.
“BPJS, yang sudah dilaunching, kita bisa lihat bahwa sistemnya belum ready. Ini ibarat lempar permen ke anak-anak, mereka pasti berebutan ambil, tapi setelah anak-anak makan efeknya apa kita enggak tahu,” keluhnya kepada Okezone saat ditemui di Gedung Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2015).
Veronica melihat masalah bukan hanya ketidaksiapan BPJS saja, namun koordinasi dengan pihak birokrasi lainnya. Sebagai contoh kecil, ketersediaan obat-obatan untuk kanker yang terhambat karena komunikasi dan biaya.
“Contohnya, kami YKI selama ini mensuplai obat dari Novartis untuk membantu pasien leukemia. Sejak ada BPJS, mereka harus nempel ke sana. Tapi belakangan pasien suka teriak-teriak di apotek karena obat enggak ada, dan apotek menyalahkan Depkes yang mengaku tidak punya anggaran karena obatnya mahal,” ungkapnya.
Namun demikian, Veronica mencoba optimis dengan Kementerian Kesehatan yang baru yang dipimpin oleh Nila Moeloek, yang memiliki pengalaman sebagai pengurus YKI pusat. Selain itu, Veronica juga menyuarakan harapannya agar lembaga seperti YKI dan CISC tetap bergandeng tangan dalam penanggulangan kanker sambil menunggu perbaikan sistem pusat oleh pemerintah.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.