ROKOK rasa mentol yang menyejukkan sering kali membuat banyak penikmat rokok merasa lebih aman daripada merokok tembakau biasa. Padahal menurut penelitian, ini dapat menyebabkan masalah paru-paru yang lebih parah.
Perokok yang sering masuk ke ruang gawat darurat belakangan, dilaporkan lebih banyak dari pengguna rokok mentol. Kebanyakan mereka juga harus menjalani perawatan di rumah sakit karena menderita penyakit paru-paru yang lebih buruk dari pengguna rokok tanpa rasa.
Efek anestesi dari mentol bagi saluran udara, menurut peneliti, mungkin menyulitkan perokok untuk merasakan gangguan pada paru-paru mereka. Kondisi tersebut seperti kesulitan bernapas atau meningkatnya dahak yang berlangsung selama berhari-hari.
"Kami terkejut bahwa perokok mentol, dibandingkan dengan yang tidak, melaporkan eksaserbasi (perburukan kondisi kesehatan) lebih parah," kata Dr Marilyn Foreman, dari Morehouse School of Medicine di Atlanta, Amerika Serikat, seperti dikutip Dailymail, Kamis (6/11/2014).
Para peneliti dari Kanada tersebut, Dr Foreman dan rekan-rekannya, membandingkan 3.758 perokok mentol dan 1.941 perokok nonmentol, berusia antara 45 hingga 80 tahun, yang merokok sedikitnya 10 bungkus per tahun.
Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa para penyuka rokok mentol rata-rata berusia lebih muda, dan tidak jarang dari mereka adalah perempuan dan orang berkulit hitam. Mereka rata-rata mengonsumsi 43 batang rokok dalam seminggu, sementara pengguna nonmentol rata-rata hanya 26 batang.
Peneliti mengakui, penemuan tersebut mungkin tidak membuktikan hubungan langsung antara mentol dan masalah paru-paru. Namun, mereka berpikir mentol mungkin memiliki efek anestesi pada saluran udara yang membuat perokok tidak menyadari langsung kondisi paru-paru mereka yang mulai memburuk.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.