Koleksi Anne Avantie (Foto: Dok. Okezone)
MODIFIKASI kebaya menjadi beragam siluet dan gaya berjalan sinergis dengan bertambahnya jumlah desainer yang fokus mengolah kebaya. Para desainer tersebut berusaha mengomunikasikan kebaya sebagai ekspresi mode dengan eksplorasi tanpa batas.
Mereka kerap mempertunjukkan kreasi kebaya yang diolah dengan beragam interpretasi. Contohnya, koleksi kebaya encim
vintage dari Museum Afif Syakur Yogyakarta yang melalui rancangannya menunjukkan kebaya sebagai bentuk komunikasi budaya bangsa dari masa ke masa. Koleksi kebaya antik tersebut tentu saja kontras dengan ”kebaya resor” yang disuguhkan Edward Hutabarat.
Menggunakan kain lurik maupun kain batik yang dibentuk serupa kebaya kutu baru, Edo mengombinasikan kebaya modern tersebut dengan celana palazzo berbahan batik
vintage. Modernitas bernapas tradisi juga menjadi pilihan gaya Lenny Agustin yang kerap menghadirkan kebaya dalam napas baru. Salah satunya Kebaya Nyonya yang identik dengan gaya anggun, di tangan Lenny, tampil edgy dan atraktif, berpadu dengan rok mini dan
legging berwarna-warni.
Musa Widyatmodjo juga mengetengahkan sisi modern dengan menghadirkan kebaya keraton yang dikombinasikan dengan garis desain ala
Victorian. Sementara, Ferry Sunarto menghadirkan sisi
avant garde sebuah kebaya dengan korsase besar di bagian pundak yang disambungkan dengan jubah khas
Edwardian. Adapun desainer yang memilih napas klasik yang tak lekang waktu adalah Marga Alam dan Anne Avantie.
Keduanya pun tak jarang memasukkan unsur glamor dalam rancangan mereka menggunakan renda, payet, mutiara atau bahkan serpihan kaca. Inovasi kerap dihadirkan dalam bentuk siluet maupun dari segi material, seperti yang dilakukan Anne dengan batik lawasan maupun kain sindur “Klabang Ngantub” yang umumnya berfungsi sebagai kain setagen. Bekerja sama dengan para perajin, Anne membuat kain sindur yang biasanya berukuran 50 cm menjadi 150 cm sehingga bisa dibuat pakaian.
“Saya harap ini bisa jadi inovasi baru agar perajin kain sindur bisa kembali menggeliat dan menemukan lahan baru,” papar Anne.
Adapun kebaya juga tak luput dari perhatian Priyo Oktaviano yang pernah mentranslasikan kebaya dalam bentukan yang lebih modern di panggung mancanegara, seperti di Italia dan Republik Ceko. Priyo mengembuskan napas baru pada kebaya Bali yang menonjolkan sensualitas sebuah kebaya lewat potongan dada rendah dan siluet yang erat memeluk tubuh.
Adapun Ghea Panggabean menunjukkan sisi modern kebaya keraton Jawa yang dihadirkan ringan lewat lapis sifon. Desainer lainnya yang juga mengolah kebaya keraton Jawa adalah Adjie Notonegoro dan Harry Darsono. Pengamat mode Samuel Mulia mengatakan, sebagai sebuah identitas nasional, kepribadian kebaya harus tetap, namun
style-nya boleh berubah agar tidak tergerus zaman. Pendapat yang kemudian dipertegas dengan ucapan Obin bahwa hadir di Indonesia untuk menjadi bentuk identitas juga ekspresi mode Tanah Air. ”Kebaya is
here to stay,” sebutnya.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.