USAI memasyarakat di tanah air, kain tenun pun bersiap masuk ke pentas internasional. Itulah harapan perancang tenun Thomas Sigar untuk kian mengglobalkan kain adati tersebut.
Selain batik, keindahan tenun memang belum ter-blow up dengan maksimal. Masih ada banyak tenun dari berbagai daerah yang belum tergarap dan tereksplorasi. Untuk itu, keikutsertaan desainer dalam mempopulerkan tenun pun menjadi hal yang perlu dilakukan.
Dengan tangan lincah mereka, kain tenun pun dapat tersulap menjadi hasta karya yang semakin indah dan disukai para pecinta fesyen.
Thomas Sigar, salah satu desainer senior Indonesia ini merupakan sosok yang tekun dan berkonsentrasi pada kekayaan kain tenun Indonesia. Keinginan untuk memerkenalkan lebih dalam jenis-jenis kain tenun pun menjadi cita-citanya. Dan untuk memudahkan proses sosialisasi pada masyarakat, Thomas Sigar pun ingin mewujudkan kain tenun dalam kemasan busana ready to wear.
“Ada sih rencana kesana, tapi harus benar-benar memertimbangkannya lebih matang. Seperti keuntungannya itu apa saja karena untuk pakaian ready to wear itu persaingannya makin ketat,” papar pria yang selalu khas mengenakan syal dilehernya ini kepada okezone ketika ditemui usai acara "The Enchanting Culture of Minahasa" di Museum Tekstil, Jakarta, Jumat (30/3/2012).
Menurutnya, untuk memproduksi pakaian ready to wear bahan yang diterapkan pun pasti berbeda. Biasanya untuk pakaian siap pakai tersebut digunakanlah bahan yang siap print, sementara tenun ini lebih untuk desain khusus.
“Mungkin kalau untuk pakaian siap jadi lebih ke yang print ya, karena kalau untuk kain tenun sedikit susah. Tapi saya ada rencana untuk memerkenalkan kain tenun ke masyarakat luas dan tidak hanya untuk kalangan tertentu,” tandasnya. (ind)
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.