Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Melongok Barang-Barang Murah di Taman Puring

Pasha Ernowo , Jurnalis-Minggu, 04 Maret 2012 |09:09 WIB
Melongok Barang-Barang Murah di Taman Puring
Pasar Taman Puring (Pasha Ernowo/okezone)
A
A
A

SELAIN memiliki Kota Tua Jakarta dan kekayaan wisata sejarah, Jakarta dipandang sebagai destinasi wisata belanja terbaik. Salah satu tempat di Jakarta yang merupakan surga bagi pengemar wisata belanja adalah Taman Puring.

Bermula sejak 1960an. Ketika itu, Taman Puring masih berupa pangkalan oplet, dimana pedagang pikulan mangkal di sana untuk mengeruk rezeki. Seiring perkembangan zaman, Taman Puring sempat menjadi brand imej tempat penjualan barang-barang selundupan ataupun barang black market.

Namun periode 1980-1990an, nama taman Puring berubah seram, menjadi pusat tadahan barang-barang hasil kriminal. Ada copet yang menjual kembali hasil copetannya ataupun rampok yang juga menjual hasil kerjanya.

Namun, kebakaran pada 2002 mengubah pasar, menjadikan Taman Puring sebagai pasar modern yang tertata dengan rapi. Salah satu saksi mata kebakaran hebat adalah Sukirman, Sekretaris Pengelola Pasar Taman Puring yang kala itu adalah pedagang di pasar ini. Sukirman sendiri mengaku mencari rejeki di Taman Puring sejak 1988.

“Kebakaran terjadi pada tahun 2002. Tidak lama kemudian, kami para pedagang mengajukan pembangunan kembali pasar ini karena ini tempat kami mencari rejeki. Tak lama kemudian, Gubernur Sutiyoso menerima permintaan kami dan mengucurkan dana Rp10 milyar untuk membangun pasar seperti yang bisa kita lihat saat ini,” ungkapnya saat ditemui okezone, baru-baru ini.

Pasar Taman Puring murni pasar yang diperuntukkan bagi pedagang kaki lima. Pasar ini dibina oleh Pemda DKI Jakarta, namun untuk pengelolaannya dipercayakan kepada pedagang.

"Di Pasar Taman Puring terdapat 710 kios, terbagi dua lantai. Lantai atas kebanyakan diisi oleh counter dengan jumlah 84 buah. Sementara itu, lantai bawah diisi oleh macam-macam pedagang dengan jumlah 626 kios," jelasnya.

Sukirman mengatakan, kini barang-barang yang dijual oleh pedagang tidak lagi melulu barang bekas atau barang black market. Barang-barang baru kini menjamah pasar Taman Puring, seperti sepatu, jaket, kacamata, jam tangan, laptop, dan masih banyak yang lainnya.

"Kita sih gak pernah menganjurkan barang-barang black market karena barang-barang tersebut kan tidak pasti kualitasnnya. Namun ternyata, barang-barang tersebut memiliki bangsa pasar tersendiri," paparnya.

Ia menjelaskan, bicara masalah kualitas memang sangat variatif. Namun, selama ini jarang pembeli yang komplain. Memang, barang di Taman Puring bisa murah karena tidak kena pajak sebesar barang sejenis yang dijual di mal atau pertokoan lain.

Terkait garansi yang akan didapatkan oleh pembeli, Sukiman menjelaskan, “Permasalahan tidak mendapatkan fasilitas garansi tersebut tidak jadi masalah oleh para pembeli karena kualitas barang juga lumayan,” tandasnya.

Sukirman mengungkapkan, barang dagangan yang umum dijual di Taman Puring lebih kepada garmen, elektronik, dan sepatu. Para pedagang mendapat stok barang dari berbagai sumber. Bahkan ada yang mengambil dari luar negeri seperti China. Konsumennya juga sangat variatif. Ada remaja, orang tua, bahkan sesama pedagang. Mereka yang bertandang ke pasar pun dari berbagai daerah, ada yang dari daerah sekitar lokasi pasar, ada yang dari luar kota, bahkan dari luar pulau.

“Kadang ada orang Afrika datang ke sini, katanya sih mau dijual lagi,” lanjutnya.

Sukiman menyatakan, Pemkot Jakarta Selatan memberikan perhatian kepada pedagang di Taman Puring. "Beberapa kali, orang dari Pemkot datang kemari untuk memberikan penyuluhan tentang bagaimana cara menata barang atau sekedar berbagi mengenai masalah permodalan," imbuhnya.

Salah satu pedagang sekaligus pemilik toko IGrosir, Busro (35), mengaku mendapatkan barang-barang dagangannya melalui pabrik-pabrik konveksi yang tersebar di daerah Jakarta. "Barang-barang yang dijual di sini made in Indonesia. Ada datang dari daerah Kota, Meruya, atau Kebon Jeruk," paparnya.

Ia menuturkan, barang yang dijual berkisar antara Rp60 ribu sampai Rp300 ribu dan untuk keuntungan tidak bisa diprediksi rata-rata per hari. "Kalau keuntungan, tergantung musimnya. Kalau lagi musim bola, kayak Piala Dunia, ya ramai, bisa jutaan. Tapi kalau lagi sepi kayak sekarang, laku 3-4 potong juga sudah syukur," ujarnya.

Salah satu pelanggan tetap toko I Grosir, Andika Sofyan (27), mengatakan datang ke Taman Puring untuk membeli sepatu basket. “Belanja barang di sini menarik dan barangnya bagus-bagus. Saat saya beli jaket Lakers warna kuning, ditawar Rp150 ribu. Padahal, saya beli cuma Rp75ribu. Berarti kan orang tahu kalau barangnya bagus. Karena itu, saya bela-belain datang kes ini," pungkasnya.

Lanjut Sukirman, terlepas dari perjalanan panjang Taman Puring serta perubahan imejnya, kini Taman Puring sudah tertata dengan rapi.

"Saya pikir lebih enak sekarang, tidak kumuh dan tertata rapi. Kalau pasar rapi kan mengundang pembeli untuk datang lagi, Mas," tutupnya.

(Fitri Yulianti)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement