TIDAK hanya kreativitas saja yang harus dimatangkan untuk memajukan Indonesia Fashion Week (IFW). Unsur pelayanan (sevice) juga harus ditingkatkan.
Tujuan menjadikan Indonesia sebagai kota mode dunia pada 2025 memang membutuhkan persiapan yang tidak sebentar. Namun dengan penyelenggaraan IFW untuk pertama kali bisa menjadi tolak ukur untuk mewujudkan impian tersebut.
"Memang banyak pekerjaan rumah yang harus dipikirkan. Namun kami dari desainer harus terus mengasah kreativitas agar produk yang dibuat sesuai keinginan pembeli," jelas Ali Charisma selaku Presiden Direktur Indonesia Fashion Week kepada okezone di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Minggu (26/2/2012).
Desainer yang berbasis di Bali ini mengamati, bahwa koleksi perancang Indonesia yang bisa mengikuti selera internasional memang belum banyak.
"Koleksi teman-teman desainer masih banyak yang tidak mengikuti kode etik atau komponen dalam fesyen. Harus bisa menempatkan detail busana dengan tepat, mengetahui anatomi tubuh, bisa memadupadankan material dan warna busana secara pas, dan lain-lain," ulas desainer yang berbasis di Bali ini.
Selain kreativitas tersebut, sambung Ali, faktor yang mendukung kemajuan IFW adalah pelayanan (service).
"Buyers dari New York memuji orang-orang Indonesia sangat ramah. Mereka sempat bingung mencari booth pameran yang menyediakan produk yang sedang dicari dan ternyata ada pengunjung yang membantu," kata Ali menceritakan kesan para pembeli mancanegara yang mengunjungi IFW.
Selain itu, lanjut Ali, para buyer dari New York juga sangat memberikan apresiasi terhadap produk dalam negeri.
"Mereka sangat senang dan sangat antusias sekali ingin memperkenalkan produk Indonesia kepada masyarakat luar negeri. Mereka cerita bosan sudah 20 tahun bekerja sama dengan para pekerja fesyen di China," tukasnya.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.