Advertisement
Advertisement

Lelumban, Tradisi Bersyukur Petani Cirebon

Erika Lia (Koran Sindo) , Jurnalis-Sabtu, 24 Desember 2011 |09:11 WIB
Lelumban, Tradisi Bersyukur Petani Cirebon
Keramaian saat arak-arakan Lelumban (foto: Erika Lia/Koran Sindo)
A
A
A

JELANG tradisi Lelumban di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, kemarin diisi kegiatan arak-arakan. Ribuan orang berkumpul di sepanjang Jalan Raya Gunung Jati hingga bundaran kawasan Krucuk, Kota Cirebon.

Mereka antusias menyaksikan arak-arakan yang digelar setiap bulan Desember itu. Warga bahkan rela menunggu sejak siang hingga sore, dalam desakan kerumunan orang yang datang dari berbagai daerah di wilayah Cirebon itu.

Lelumban sendiri merupakan tradisi sedekah bumi dan sedekah laut (nadran) yang digelar Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, maupun warga keturunan keraton di Desa Astana, kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Tradisi itu digelar sebagai bentuk ungkapan syukur masyarakat petani dan nelayan atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa sepanjang tahun ini.

“Saat lelumban, para nelayan terutama melarung sesaji di atas permukaan sungai. Untuk tradisi ini, Sungai Condong menjadi tempat melarung sesaji yang muaranya ke Laut Jawa,” terang budayawan Cirebon Made Casta.

Sesaji yang ditampilkan biasanya memunculkan sifat-sifat kehidupan. Selain kepala kerbau, sesaji juga berisi bunga tujuh rupa, air tujuh rupa, juwadah (semacam dodol), maupun nasi kuning.

Menurut dia, ritual itu diperkirakan sudah ada sejak dikenalnya Dewi Sri sebagai demi kesuburan sebelum agama Islam masuk Cirebon, ratusan tahun lalu. Ketika agama Islam masuk Cirebon, ritual ini kemudian mengalami akulturasi hingga menjadi tradisi seperti sekarang.

Meski lelumban dianggap sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, ritual ini dipandang masyarakat kekinian sebagai sebuah tradisi turun-temurun. Dikatakan Made, sudah ada beberapa hal yang berubah seiring perkembangan zaman.

“Di antaranya keriuhan masyarakat yang mencolok, sedangkan rangkaian ritualnya masih ada yang tetap sejak dulu hingga sekarang, seperti pagelaran topeng dan wayang kulit dengan lakon tertentu,” papar pria yang juga dikenal sebagai seniman ini.

Khusus pagelaran topeng dan wayang kulit di Desa Astana, pihak penyelenggara biasanya mengundang seniman dan dalang khusus dari Gegesik, Kabupaten Cirebon, yang memiliki keterikatan dengan pihak keraton. Ditambahkannya, lelumban hanyalah satu dari sekian banyak tradisi serupa yang ada di Cirebon.

Setiap desa yang dilalui sungai-sungai besar, kata dia, pada umumnya memiliki agenda sedekah bumi dan nadran setiap tahun dengan waktu berbeda-beda. “Lelumban melarung sedekahnya sendiri besok (hari ini),” tandas dia.

Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Cirebon, Manon Jaya, mengatakan tradisi semacam itu sesungguhnya mengandung nilai daya tarik wisata. Sayang, pengemasannya hingga kini belum terpadu karena masih dilakukan tiap-tiap daerah.

“Selain masyarakat Kabupaten Cirebon, dari Indramayu bahkan turis asing juga kerap telihat menyaksikan tradisi semacam ini. Dari segi ekonomi, kegiatan ini juga menumbuhkan ekonomi masyarakat sehingga patut dilestarikan,” tutur dia.

(Syukri Rahmatullah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement