Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Peter Sie Tak Miliki Regenerasi Bisnis?

Dwi Indah Nurcahyani , Jurnalis-Senin, 04 April 2011 |17:04 WIB
Peter Sie Tak Miliki Regenerasi Bisnis?
Peter Sie (Foto: Dwi Indah Cahyani)
A
A
A

MESKI memiliki satu anak angkat, pengalihan tongkat estafet bisnis Peter Sie masih abu-abu. Akankah bisnis Sie tetap berjalan dengan kondisi tersebut?

Secara umum, biasanya para pelaku bisnis telah menyiapkan regenerasi bisnis sejak jauh-jauh hari guna kelangsungan bisnis yang mereka bangun ke depannya. Namun sepertinya tak demikian dengan sosok idealis, perfeksionis, disiplin, dan tekun Peter Sie. Peter Sie yang dikenal tak pelit berbagi ilmu tersebut memilih untuk memercayakan semua talenta yang kelangsungan bisnisnya kepada para pegawainya.

Seperti diketahui, perintis mode Tanah Air ini tutup usia pada Jumat (1/4) lalu dan jenazahnya telah dikremasi di Oasis Lestari Tanggerang dan abunya ditaburkan di Ancol, Minggu (3/4) kemarin.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir, kesehatan Sie delapan bulan terakhir ini memang menurun drastis. Sebuah serangan stroke di area mulutnya membuat Sie lemah tak berdaya. Puncaknya, dua bulan sebelum wafat, sang maestro ini benar-benar tak bisa melakukan apapun. Semua aktivitasnya termasuk makan dan buang air dilakukan di ranjang. Dengan keadaan tersebut, semua pekerjaan yang berkakitan dengan rancang busana pun tak disentuhnya sama sekali.

Susiana Sindhikhara, sekretaris alm Peter Sie mengungkapkan, “Sebenarnya sejak kurang lebih dua tahun lalu. bapak sudah mendelegasikan tugas kepada kami semua Bapak itu hanya mengerjakan sekitar 10 persen saja.

Saat ditanyakan perihal regenerasi bisnis yang tampuknya bertumpu pada Peter Sie seorang, Susi yang telah mengabdi selama kurang lebih 36 tahun tersebut mengungkapkan, sebenarnya secara lisan Sie tidak pernah mengutarakan perihal regenerasi tersebut. Tapi dalam praktiknya, Susi dan rekan-rekan baru merasakannya sekarang bahwa kepercayaan dan pelatihan yang diberikan Sie sejak dulu merupakan bekal yang ditinggalkan Sie untuk mereka.

“Secara bertahap saya hampir tidak merasakannya. Ketika beliau dengan sengaja membiarkan ide-ide saya mengalir dan terwujud. Padahal secara proses semuanya diperuntukkan untuk keterampilan saya ke depannya,” katanya.

Lebih lanjut Susie menuturkan, “Sejak beberapa tahun lalu, beliau terkadang suka terserang kebuntuan ide. Maklum, mungkin pengaruh usia. Jadi, sayalah yang biasanya bertugas menggulirkan ide dan dan beliau yang menerjemahkannya dalam sketsa. Lambat laun seiring dengan pergerakan waktu, akhirnya semua tugas tersebut termanifestasikan ke saya.”

Kepergian Sie tiga hari lalu praktis membuat bisnis Sie terhenti sementara. Sie yang hanya tinggal dengan anak angkat semata wayangnya, Giyati dan seorang pembantu di kediamannya tersebut pun tak memersiapkan regenerasi untuk kelanjutan bisnisnya.

Lalu, siapakah regenerasi untuk meneruskan tongkat estafet tersebut? Susi sebagai orang kepercayaan Sie pun hanya berujar , “Sementara ini kita jalani dulu saja. Saya sendiri belum bisa memastikan langkah ke depannya seperti apa. Saya belum tahu.”

Tak berbeda jauh, putri angkat sekaligus semata wayangnya Giyati pun mengungkapkan hal senada.

“Saya tidak tahu apa-apa soal masalah tersebut. Semuanya ibu Susi yang mengurus,” ujar Giyati.

(Tuty Ocktaviany)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement