KONSEP East Meets West bukanlah hal baru dalam dunia rancang busana Indonesia. Namun, konsep tersebut ternyata menimbulkan efek yang berbeda terhadap koleksi desain dalam negeri. Unik, etnis, namun tetap kontemporer.
Dilihat dari banyaknya pekan mode dan pergelaran mode busana yang dilakukan para desainer Indonesia, kolaborasi desain Timur dan Barat tersebut seolah memberikan identitas tersendiri pada hasil karya desainer dalam negeri. Koleksi yang mereka hadirkan terlihat selaras dengan tren masa kini, namun memiliki karakter tersendiri yang membuatnya berbeda.
Musa Widyatmodjo misalnya. Desainer yang kini menjabat sebagai penasihat Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini tak pernah ketinggalan menyuguhkan koleksi manis, namun tetap bercitra etnik. Seperti dalam Jakarta Fashion Week, beberapa waktu lalu.
Koleksinya untuk lini sekunder M by Musa menghadirkan konsep perpaduan gaya sopan busana wanita Timur, tapi juga memiliki sentuhan praktis dan dinamis gaya busana wanita Barat. Musa juga membuat koleksinya lebih kontemporer dengan mengadaptasi bentukan, juga detail busana Barat. Meskipun begitu,sentuhan Timur tak kalah menonjol.
Dengan fasih, Musa menempatkannya di lokasi strategis, seperti pada bentuk kerah cheongsam ataupun garis leher yang diadaptasi dari baju kurung. Bahkan, di beberapa rancangan, Musa sengaja mengadopsi bentukan kebaya yang dipadukan bersama kain batik dan tenun.
Menggambarkan citra para wanita Melayu yang sederhana, keibuan, dan konservatif, Musa menghadirkan rancangannya dalam palet lembut layaknya ivory, putih, jingga, maupun merah terang yang menjadi warna khas Oriental.
”Selama ini, budaya Melayu kerap hadir dalam nuansa etnik. Kali ini garis rancangannya saya hadirkan lebih kontemporer agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan globalisasi,” tutur jebolan Lomba Perancang Mode (LPM) Femina tahun 1990 ini.
Nuansa etnik yang lebih kental ditampilkan Stephanus Hamy dengan mengangkat budaya masyarakat Sumba. Tidak seperti Musa yang hanya mengadopsi bentukan dan motif budaya Melayu, Hamy justru menempatkan kain ikat Sumba sebagai fokus utama. Begitu juga dengan teknik pewarnaan tie dye yang didominasi nuansa biru gelap. Hasilnya, koleksi yang eksotis sekaligus atraktif. Hamy berhasil memunculkan sifat unik masyarakat Sumba yang berusaha keras mempertahankan budayanya di tengah arus globalisasi.
Alasan itu juga yang membuat Hamy mengeluarkan nuansa etnik dalam garis rancangan yang lebih sederhana. Seperti terlihat pada terusan panjang dari kain tenun yang dikombinasikan bersama renda dan luaran transparan untuk kesan yang lebih modern.
Lainnya, Hamy menawarkan gaya yang lebih glamor melalui detail lipit, layer, serta penggunaan embelishment untuk memperkaya rancangannya. Adapun unsur kontemporer terlihat dari penggunaan obi sebagai pengganti ikat pinggang yang dipadankan bersama batwing beraksen lipit serta celana panjang yang sengaja dibuat dari kain tenun.
Desainer lain yang selalu konsisten menghadirkan konsep East meets West adalah Ghea S Panggabean. Ghea mengeksplorasi gaya keraton yang kemudian dituangkan menjadi koleksi kontemporer nan etnik.
”Semua orang sudah tahu bagaimana rancangan Ghea, dan saya mencoba konsisten menghadirkan ciri khas itu,” sebutnya.
Satu hal yang berbeda, alumni Lucie Clayton College of Dressmaking Fashion Design ini mencoba mengombinasikan sentuhan etnik di atas bentukan kaftan yang saat ini tengah populer. Tak ketinggalan gaya etnik Bali, bentukan baju bodo, serta lengan kimono yang tidak pernah absen dari koleksinya.
Menyelaraskan dengan tema rancangannya, warna batu mulia layaknya emerald, jade, turqouise, merah, ungu, dan keemasan terlihat mendominasi koleksinya. Sementara, kekuatan teknik print, bordir, dan penambahan detail manik-manik sengaja dihadirkan untuk menggambarkan citra wanita berjiwa muda yang mencintai sentuhan etnik dalam penampilannya.
(Fitri Yulianti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.