DIA, burung itu memiliki nama blekok. Satunya lagi bernama kuntul. Lucu ya namanya. Pertengahan Februari lalu, saya bersua dengan mereka dalam sebuah perjalanan menuju Dusun Ketingan, Sleman, Yogyakarta.
Pada sebuah rumah berpekarangan luas, sekira 15 x 7 meter, langkah saya terhenti oleh keriuhan yang sedang berlangsung di atas sana. Keriuhan yang digemakan burung- burung blekok dan kuntul di atas pepohonan johar dan melinjo. Ada yang terlihat baru saja kembali ke sangkar membawa makanan untuk anak-anaknya. Ada pula yang saling berkejar-kejaran, seakan mengabari saya kalau mereka sedang bersenda-gurau atau ah jangan-jangan mereka sedang masuk musim kawin.
Pak Cipto, sang empunya rumah, baru saja kembali dari sawah ketika saya mengetuk pintu rumahnya yang terbuka. Dengan peluh yang terlihat masih menempel di tubuhnya yang tidak muda lagi, katanya, di siang yang cukup hangat itu, ia usai menanam pantun (padi dalam tingkatan bahasa Jawa paling halus) jenis IR 64, dibantu sang istri. Saya lalu meminta izin untuk memasuki pekarangan rumahnya, melihat dari dekat solah-tingkah burung-burung yang dikaruniai pesona ragawi berkat keindahan bulu-bulunya itu. Pria yang telah dikaruniai dua cucu ini mengabulkan permintaan saya.
"Kuntul itu yang warnanya putih polos, Mas. Kalau blekok ada warna cokelatnya di bagian leher," ujarnya memberi tahu saya tentang perbedaan di antara keduanya. Mantan ketua RT selama tujuh periode berturut-turut sejak 2000 itu lalu menceritakan ihwal keberadaan burung-burung kuntul dan blekok di Ketingan. Ingatannya lalu melayang pada sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Ketika itu, ceritanya, warga baru saja menyelesaikan pekerjaan pembuatan jalan masuk ke dusun yang dilakukan secara swadaya. Tak lama berselang, burung-burung itu kemudian mulai berdatangan satu per satu, lalu membuat sangkar dan berumah di pohon-pohon johar dan melinjo yang ada di dusun yang memiliki empat RT (Rukun Tetangga) itu. Sampai sekarang.
Suasana dusun yang semula sepi, sejak kedatangan burung-burung itu, sontak berubah ramai. Dusun ini pun perlahan mulai dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara. "Landi-landi niku pun nate tindak mriki (Orang-orang bule itu pernah datang ke sini)," cerita Pak Cipto tanpa memerinci dari negara mana asal bule-bule itu. Dari cerita Pak Cipto soal bule-bule yang datang ke Ketingan, termasuk ketika dusun itu juga ramai dikunjungi oleh murid-murid sekolah dari Jakarta ketika musim liburan tiba, bisa dikatakan bahwa keberadaan burung-burung itu memberi berkah tersendiri bagi penghidupan sebagian warga.
Katakanlah dengan menyewakan sepetak atau dua petak ruangan rumah untuk dijadikan penginapan, warga sudah bisa beroleh penghasilan dari sana. Atau bisa pula, misalnya, dengan menjual suvenir berupa gantungan kunci atau kaos bergambar burung kuntul dan blekok, dan masih banyak yang lain. Kendati demikian, di antara sekian proses komodifikasi sebutlah demikian terkait kehadiran burung-burung itu, warga ternyata memiliki sebentuk kepedulian nyata atas hak hidup burung-burung itu lho.
Mereka, misalnya, membuat peraturan yang isinya melarang bagi siapa pun untuk menembak burung. Luar biasa juga ikatan batin dan penghargaan warga Ketingan terhadap burung-burung itu. Dua jam sudah saya berada di pekarangan rumah Pak Cipto. Laki-laki yang memiliki satu anak perempuan yang sudah menikah ini juga sempat berbagi cerita lain yang sempat membuat perut saya terguncang.
Dikisahkannya, dua tahun lalu ada seekor anak burung kuntul yang "mendarat" ke tanah. Karena merasa iba, Pak Cipto lalu merawatnya termasuk memberinya makan berupa ulat. Biasanya setelah kenyang diberi makan, anak burung itu lalu diam. Eh kok ketika lapar ia lalu mencari-cari Pak Cipto, bahkan hingga masuk ke dalam rumah. Ketika tuannya berhasil ditemui, anak burung itu lalu mematuki kaki Pak Cipto. Mungkin karena kesal, anak burung itu lalu diberikan kepada tetangganya.
Ada cerita lain lagi, yaitu soal mercon. Burung-burung ini, menurut Pak Cipto, memang paling takut dengan mercon atau petasan. Setiap mendengar letusan suara mercon, burung-burung ini berhamburan pergi dari sangkarnya. Baru seumur hidup saya tahu ada burung yang takut sama mercon. Manusiawi, eh,"burungiawi" sekali. Karena sifatnya ini, bagaimana kalau kita namai burung-burung ini sebagai burung-burung yang manusiawi. Seperti manusia, ia pun juga memiliki rasa takut.
Saya lalu pamit. Perjalanan ini sungguh berkesan. Ada setangkup makna yang terendap di dalam hati. Sambil melangkah pulang, saya pun berandai-andai. Andaikata di sekitar kita masih banyak pepohonan yang tumbuh rimbun seperti di Ketingan, ah mungkin tidak hanya blekok dan kuntul saja yang akan datang berhuni. Andai saja...(*)
Aris Darmawan
Penulis lepas: [email protected]
(M Budi Santosa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.