JAKARTA - Menyambut Hari Raya Iduladha, seringkali orangtua mengajak buah hatinya untuk menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Orangtua sering menganggap hal ini menjadi sebuah edukasi dan menanamkan nilai-nilai keagamaan serta pengorbanan pada anak. Namun, ternyata, membawa anak ke tempat penyembelihan ini saat usianya belum mencukupi bisa berdampak pada psikologisnya.
Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi, dr. Aisya Fikritama A, Sp.A menyebut bahwa penyembelihan hewan kurban saat Iduladha bisa jadi pengalaman yang membingungkan atau bahkan traumatis bagi anak usia di bawah 7 tahun.
“Anak-anak di usia ini masih melihat dunia secara konkret. Mereka belum mampu memahami makna simbolik dari berqurban. Yang mereka lihat? Ada hewan disembelih dan berdarah. Bisa bikin takut, sedih, atau merasa hewan itu disakiti,” tulisnya di caption media sosialnya.
Namun, sebaliknya, anak-anak usia di atas 7 tahun kognitifnya sudah berkembang, sehingga mereka bisa lebih memaknai nilai-nilai keagamaan dan juga konsep pengorbanan. Jadi, sebaiknya Mom dan Dad tunda dulu ajak anak menonton langsung penyembelihan, terutama jika belum cukup usia dan belum siap secara mental.
“Tapi sebaiknya Mom and Dad memberitahu lebih dulu, jika mereka menunjukkan ketertarikan untuk melihat, ajak mereka dari jarak aman dan pastikan mereka merasa nyaman,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, jangan paksa anak melihat proses penyembelihan kurban kalau mereka tampak takut ataupun enggan. Kenalkan makna kurban sesuai dengan usia dan kesiapan anak.
Lalu, bagaimana mengenalkan makna kurban?
Menurut dr. Aisya mengenalkan makna kurban dan memberikan edukasi bisa lewat cara-cara seperti, mengenalkan lewat video edukasi, dongeng atau buku bergambar. Lalu, ajak anak bantu membagikan daging kurban, serta tanamkan nilai berbagi dan empati.
“Yang penting adalah tanamkan nilai-nilai kebaikan dan berbagi secara positif sesuai dengan tahap perkembangan mereka,” tuturnya
(Agustina Wulandari )