HARI Paru Sedunia diperingati pada 25 September setiap tahunnya. Tema Hari Paru Sedunia tahun ini adalah 'Clean Air and Healthy Lungs for All', atau Udara Bersih dan Paru Sehat untuk Semua.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) 2024, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan ada beberapa alasan kenapa tema ini dipilih.
"Pertama, di dunia setiap tahunnya ada 7 juta orang meninggal berkaitan dengan berbagai penyakit yang berhubungan dengan polusi udara, seperti PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), kanker paru dan penyakit infeksi paru," katanya dalam siaran pers yang diterima Okezone, Senin (23/9/2024)
Selain itu alasan kedua dipilihnya tema tersebut lantaran udara yang tercemar adalah ancaman kesehatan universal, akan berdampak pada kesehatan semua yang menghirupnya, dari bayi sampai lanjut usia. Alasan ketiga karena data dunia menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen penduduk dunia hidup didaerah yang kadar polutannya melebihi standar sehat dari World Health Organization (WH0).
"Ke empat, peningkatan polusi udara dan juga 'ground-level ozone' yang berhubungan dengan terbentuknya emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emissions) akan memperburuk fungsi paru dan pernapasan, meningkatkan angka masuk rumah sakit karena sakit paru dan meningkatkan pula risiko kanker paru. Ke lima, perubahan cuaca (climate change) adalah salah satu pemicu utama polusi udara," katanya.
Para dokter spesialis paru di Jakarta melakukan acara kegiatan Hari Paru Sedunia di Car Free Day Jakarta Minggu 22 September 2024 dengan berbagai acaranya bersama warga Jakarta, dan dihadiri pula oleh Wakil Kepala Dinas Kesehatan Jakarta.
"Saya ikut bergabung, sebagai satu-satunya lansia yang hampir 70 tahun. Si lansia ini datang naik sepeda, jadi di foto ini saya mengenakan kaos Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) era 1990an yang warnanya 'ngejreng', belum sempat ganti baju cerah keren seperti teman-teman yang lain di foto ini. Saya memang menjadi Ketua Umum PDPI sudah seperempat abad yang lalu, tahun 1999, dan untungnya kaos waktu itu masih ada sampai sekarang," tuturnya.
(Leonardus Selwyn)