5 UPACARA pemakaman termahal di Indonesia ini menarik dikulik. Ritual pemakaman menjadi proses akhir untuk mengantarkan seseorang yang telah meninggal dunia ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Beberapa daerah di Indonesia, masih memegang teguh kepercayaan dan melestarikan budaya adat nenek moyang.
Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan rela mengeluarkan kocek cukup dalam hanya dalam sekali menggelar upacara pemakaman.
Berikut Okezone rangkumkan 5 upacara pemakaman termahal di Indonesia sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber.
Beberapa elemen yang harus dipenuhi dalam Rambu Solo adalah hewan kurban berupa babi atau kerbau. Jenis kerbau yang dikurbankan adalah Tedong Bonga atau kerbau bule/belang (albino). Harga satu kerbau tersebut berkisar 20-50 juta rupiah. Namun ada juga kerbau yang harganya mencapai Rp600 juta atau setara harga mobil Sport Utility Vehicle (SUV).
Tingkatan strata sosial keluarga menjadi tolok ukur jumlah kerbau yang dikurbankan. Sebanyak 8-10 ekor kerbau dan 30-50 ekor babi untuk masyarakat strata sosial menengah, dan 25-45 ekor kerbau untuk kalangan bangsawan.
Keluarga yang ingin menggelar upacara ini harus merogoh uang puluhan juta guna membayar pembuatan tempat jenazah. Jenazah akan dibakar dalam sebuah patung berbentuk lembu.
Tak hanya jenazah dan patung yang dibakar, bunga dan berbagai persembahan lainnya juga turut dibakar dalam upacara Ngaben.
Dengan banyaknya sesajen dan pernak-pernik lain yang dibutuhkan dalam upacara Ngaben, tak heran jika keluarga harus mengeluarkan uang banyak, berkisar puluhan hingga ratusan juta.
Upacara ini merupakan prosesi pemindahan tulang-belulang orang yang sudah meninggal dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama sandung. Upacara Tiwah membutuhkan banyak hewan untuk dikorbankan seperti kerbau, sapi, dan babi. Estimasi biaya yang dikeluarkan sekitar Rp50-100 jutaan.
Keduanya sama-sama memindahkan tulang-belulang orang yang sudah meninggal. Bedanya, upacara Mangokal Holi dilakukan oleh sekelompok marga untuk mendirikan makam batu yang biasanya berbentuk monumen sebagai penanda asal muasal leluhur mereka.
Upacara ini diisi dengan pemotongan hewan ternak seperti kerbau untuk menjamu tamu. Selain itu, dalam pelaksanaan upacara ini pun dibutuhkan hewan yang akan dikurbankan.
Tak jarang masyarakat menggunakan kuda sebagai hewan yang dikurbankan. Tak hanya hewan, kain ulos juga diperlukan sebagai harapan agar berkah selalu mengiringi keturunan orang yang meninggal tersebut.
Pada upacara ini, warga akan melakukan penyembelihan hewan kurban seperti kerbau dan kuda sebagai persembahan. Masyarakat Sumba meyakini roh nenek moyang mereka ikut menghadiri upacara yang mereka selenggarakan.
(Siska Maria Eviline)