SEORANG wanita Inggris menderita kondisi langka yang dikenal sebagai hyperacusis yang menyakitkan. Dia mengklaim bahwa suara sehari-hari seperti tawa anak-anaknya, suara teman-temannya, dan bahkan musik menyebabkan rasa sakit yang melumpuhkan.
“Sesuatu yang seindah tawa anak-anak saya, mendengar suara mereka, bagaikan siksaan bagi saya,” kata seorang wanita Inggris itu.
Sebelumnya, Karen Cook bekerja sebagai awak kabin dan masih menjalani kehidupan normal bersama suami dan kedua anak putranya. Namun, semuanya berubah ketika dia mulai mengalami sesuatu yang aneh dan menyakitkan. Karen kehilangan indra pendengar dan tidak bida mendengarkan suara sehari-hari.
Melansir dari Odditycentral Kamis (25/4/2024), Keren mulai mengalami hal tersebut ketika hiperakusinya tiba-tiba muncul pada 2022. Saat itu lah tiba-tiba suara menjadi siksaan baginya. Suara-suara orang yang dicintai, mengobrol dengan teman, atau mendengarkan musik favoritnya menyebabkan sakit kepala yang tak tertahankan.
Dia bahkan mulai mengasingkan diri hanya untuk menghentikan penyakit ini. Selanjutnya, Karen menjelaskan bahwa seperti ada yang menuangkan lahar panas ke telinganya dan kepalanya seperti terbakar. Selain itu, seluruh kepalanya juga sakit, terutama di belakang matanya.
Hal ini membuatnya merasa seperti sedang mengalami migrain ketika seorang ingin membuka kepala untuk mengilangkan tekanan. Karen telah berusaha untuk menyembuhkan atau setidaknya mengendalikan gejalanya sejak pertama kali dia didiagnosis. Namun, keadaannya malah semakin memburuk.
Sekarang, dia menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam ruangan, karena tidak dapat menangani semua kebisingan dari dunia luar. Selain itu, dia juga menggunakan penutup telinga dan pemblokir kebisingan untuk melindungi dirinya sendiri saat sendirian di rumah.
Bahkan, ketika putra-putranya yang berusia tujuh tahun dan 11 tahun dengan gembiranya membuka hadiah mereka pada hari Natal, dia hanya berada di kamar sebelah mengawasi dari balik jendela karena tidak tahan mendengarkan suara keras dan tawa mereka.
“Saya akan duduk dan melihat mereka melalui jendela sambil membuka hadiah Natal karena terlalu berisik bagi saya untuk berada di dalam ruangan dan mereka akan naik ke jendela dan menunjukkannya kepada saya,” kata perempuan berusia 49 tahun itu.
Karen, dari Southport di barat laut Inggris dulunya sangat aktif dan suka beraktivitas di luar ruangan. Namun kini, prioritas utamanya adalah melindungi dirinya dari rasa sakit fisik yang disebabkan oleh suara. Selain itu, hidupnya juga telah berubah total dan satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah anak-anaknya.
Meskipun sejauh ini belum ada solusi yang berhasil ditemukan untuk mengatasi hiperakusisnya, Karen tetap bertekad untuk terus berjuang dan berharap menemukan cara untuk mengatasi kondisi berbahaya ini.
(Leonardus Selwyn)