MENJELANG sore, khususnya di bulan suci Ramadhan, tradisi turun ke jalan untuk mencari makanan atau takjil menjadi momen paling dinanti masyarakat.
Namun, di Kampung Kadunenggang, Desa Pasirhuni, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, masyarakat punya alternatif unik dengan menggelar Kampung Ramadhan yang menarik perhatian.
Kampung Ramadhan ini menjadi magnet wisata tersendiri bagi masyarakat sekitar, bahkan pengunjung dari luar kota.
Dengan kolaborasi antara Karang Taruna Kadunenggang, Karang Taruna Campaka Mulya, Komunitas Puntang Sauyuban, Yayasan Silih Asih Silih Asuh, dan Masyarakat, kampung ini menghadirkan konsep yang berbeda dan meriah.
Daya tariknya tidak hanya terletak pada ragam kuliner dan takjil yang disajikan, namun juga pada suasana yang hangat dan kebersamaan yang terasa.
Di Kampung Ramadhan ini pengelola juga telah menyiapkan tempat dengan tema outdoor yang terdiri dari lapangan rumput sintetis, meja lesehan, dan air mancur yang diberi lampu-lampu kecil untuk menambahkan kesan indah.
(Foto: Agi Ilman/MPI)
Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati live musik yang akan mengiringi mereka hingga waktu berbuka puasa tiba. Pengelola Kampung Ramadhan, Eep Kurnia (30) mengatakan, konsep ini sudah dilakukan sejak tahun 2023 atau setahun lalu.
“Sengaja dibuat begini konsepnya. Mulainya di tahun 2023 kemarin, cuman belum kaya sekarang ini,” ujar Eep saat kepada MNC Portal, belum lama ini.
Eep menjelaskan, selain menjadi tempat berkumpul dan berbuka puasa, Kampung Ramadhan ini juga bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi pedagang lokal untuk berdagang secara gratis.
“Hal ini menjadi bagian dari kolaborasi yang inklusif untuk mendukung ekonomi lokal dan mempererat ikatan antarwarga,” tuturnya.
Bahkan lanjut Eep, ada sekitar 70 pedagang yang terdaftar dari tiga Desa, Desa Pasirhuni, Desa Jayabaya, dan Desa Pasirmulya. “Karena kebetulan posisinya ini di perbatasan antara tiga desa itu jadi minat masyarakat kesini juga banyak,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, Kampung Ramadhan berdiri di atas tanah milik Yayasan Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh (SA3) dengan luas 3.220 meter persegi.
“Tanah juga semuanya milik yayasan, ini semua gratis karena kita ingin memberikan manfaat untuk masyarakat dan tanpa mengkomersilkan apapun itu,” tambahnya.
Setiap dekorasi yang ada di Kampung Ramadhan kata Eep, rata-rata terbilang spontan, tanpa di buat-buat. "Dekorasi memang sengaja dibuat, dan cenderung terinspirasi dadakan," ungkapnya.
(Foto: Agi Ilman/MPI)
Sama halnya dengan konsep live musik, juga disiapkan tidak hanya untuk pengelola, para pedagang dan pengunjung pun dipersilahkan untuk mengisi live musik di Kampung Ramadhan.
"Biasanya karang taruna atau pengunjung yang nyumbang lagu juga bisa silahkan," kata Eep.
Eep menyebut, sebanyak 1.000 pengunjung telah mampir ke Kampung Ramadhan sejak hari puasa pertama.
"Pengunjung hari pertama puasa ada 500 motor yang datang. Biasanya hanya sekitaran sini saja, tapi di Kecamatan lainnya juga datang, kaya dari Soreang, Dayeuhkolot, Cangkuang juga ada," tutupnya.
(Rizka Diputra)