UNGKAPAN 'air mata buaya' sering kali menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, mewakili mitos yang telah ada dalam budaya populer selama berabad-abad.
Namun, di balik mitos tersebut, ada pertanyaan yang menarik; apakah buaya benar-benar menangis saat makan? Untuk menjawabnya, kita harus menilik lebih dalam lagi.
Mengutip dari AZ Animals, asal mula cerita tentang buaya yang menangis dapat ditelusuri kembali ke abad ke-14, ketika John Mandeville menulis bukunya yang terkenal, 'Perjalanan Sir John Mandeville'.
Dalam buku ini, Mandeville menceritakan kisah seorang ksatria yang mengembara ke Asia dan bertemu dengan buaya yang disebutkan menangis saat makan. Meski cerita ini penuh dengan daya tarik, namun tak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
Kendati belum ada penelitian yang secara khusus membuktikan apakah buaya benar-benar menangis saat makan, penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa reptil, termasuk buaya, memiliki kemampuan untuk merasakan berbagai emosi.
Penelitian yang dilakukan oleh Perpustakaan Kedokteran Nasional menemukan bahwa reptil mampu merasakan emosi seperti kecemasan, stres, kegembiraan, dan bahkan penderitaan.
(Foto: Unsplash/Lisa Yount)
Meskipun kita tidak bisa dengan pasti mengatakan bahwa buaya merasa sedih saat makan, kemungkinan besar mereka memiliki kemampuan untuk merasakan emosi secara umum.
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah apakah buaya memiliki kemampuan untuk 'menangis' seperti manusia. Air mata, yang merupakan cairan yang dihasilkan oleh mata manusia, memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan mata.
Mereka melakukan ini dengan membentuk lapisan di atas mata Anda. Lendir membantu lapisan tersebut menempel pada mata Anda, minyak membantu mata Anda agar tidak kering, dan air bertindak sebagai larutan garam alami.
Seorang pakar zoologi Universitas Florida, Kent Vliet pada 2007 pernah membuktikan bahwa predator itu terisak saat makan. Namun, karena buaya makan di dalam air membuat riset tentang air mata tersebut menjadi sulit.
Sehingga dipelajarilah kerabat dekat buaya, yakni caiman dan aligator. Nah, dari tujuh aligator di Florida yang direkam saat makan, lima di antaranya menangis, baik sebelum, selama maupun setelah makan.
Inilah yang disebut sebagai Teori Vliet, di mana saat hewan membuka rahang sangat lebar saat makan, maka akan memaksa udara melalui sinus buaya sehingga mengeluarkan air mata.
Meskipun awalnya dipercaya bahwa hanya mamalia yang memiliki kemampuan untuk mengeluarkan air mata, penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa reptil, termasuk buaya, juga dapat menghasilkan air mata.
(Foto: Pexels)
Air mata pada buaya memiliki peran dalam melumasi, membersihkan, dan memberikan nutrisi pada mata mereka, demikian menyitir National Geographic.
Terdapat informasi tentang kondisi yang disebut sindrom air mata buaya pada manusia yang baru sembuh dari Bell palsy.
Ini adalah kondisi saat pasien tampak 'menangis' saat makan atau minum. Kadang-kadang, ini disebut sebagai sindrom Bogorad. Nama sindrom ini berasal dari mitos yang mengatakan bahwa buaya menangis saat makan.
Walaupun mitos tentang buaya yang menangis mungkin memiliki asal-usul yang menarik, penting untuk menyelidiki lebih lanjut dan memahami fakta yang sesungguhnya. Penelitian terus dilakukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang perilaku dan kemampuan emosional hewan-hewan ini.
(Rizka Diputra)