BEBERAPA negara cenderung menggunakan tisu toilet setelah buang air besar. Namun, perlu diketahui bahwa negara lain justru lebih menyukai air mengalir untuk membersihkan kotoran hingga bersih.
Berdasarkan informasi, penggunaan tisu toilet dominan dipakai di Eropa, Amerika Serikat, dan negara Asia Timur. Sementara itu, sebagian besar di Asia Tenggara dan Eropa Selatan memilih menggunakan air.
Lantas, bagaimana awal sejarah terhadap alasan beberapa negara pakai tisu toilet? Dilansir dari Buzzfeed, Kamis (1/2/2024). Simak berikut ini ulasannya
Pertama kali tisu toilet digunakan masyarakat Tiongkok sejak abad ke-6 hingga ke-8. Pada masa itu, tisu hanya dipakai oleh orang karena terbuat dari bahan wol, renda, dan rami. Sementara itu, kaum kelas bawah memanfaatkan apapun guna membersihkan diri, seperti daun kering, tongkat, batu, tongkol jagung, serta tangan sendiri.
Bangsa Romawi Kuno mengandalkan spons gompf komunal yang diikat pada ujung tongkat. Setelah digunakan, alat tersebut dimasukkan ke dalam wadah berisi cuka untuk menghilangkan kuman.
Selanjutnya pada 1818, penduduk Amerika mempergunakan kertas penyerap dari bahan Katalog Sears dan Almanak Petani. Kemudian pada 1935, AS menjanjikan 'tisu toilet bebas serpihan'.
Menurut Buzzfeed sebagian besar negara bermusim dingin ekstrim, seperti di Eropa Barat cenderung memakai tisu toilet. Hal itu dikarenakan ketidaktersediaan pemanas air pada masa lampau. Maka dari itu, penggunaan tisu toilet menjadi kebiasaan turun menurun hingga saat ini.
Adapun tudingan dari penulis The Big Necessity: The Unmentionable World of Human Waste and Why It Matters bernama Rose George mengungkapkan dirinya lebih setuju menggunakan air daripada tisu toilet sebagai alat pembersih setelah buang air besar.
“Seseorang tidak mandi dengan handuk kering. Lalu, mengapa tisu toilet berguna membersihkan kotoran?,” tulis George.
Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri Profesor dari Universitas New York Harvey Molotch memberikan tanggapan bahwa penggunaan tisu toilet terlebih dahulu ditemukan oleh Inggris.
“Sekitar abad ke-18 dan ke-19, orang Inggris menemukan bidet di Paris. Setelahnya, alat bilas itu diteruskan ke Amerika Serikat. Jadi, kebiasaan hidup orang Amerika berasal dari Inggris,” ujar Molotoch.
(Leonardus Selwyn)