Alasan Dokter Anak Tidak Merekomendasikan Susu Kemasan untuk Cegah Stunting

Syifa Fauziah, Jurnalis
Kamis 14 Desember 2023 08:32 WIB
Ilustrasi stunting pada anak. (Foto: Freepik)
Share :

BELUM lama ini ramai pembahasan tentang pemberian makan gratis untuk anak sekolah dan susu gratis untuk ibu hamil, di mana itu masuk dalam program untuk mencegah stunting yang dilakukan Calon Presiden Nomor Urut 2, Gibran Rakabuming Raka.

Menanggapi hal tersebut, salah satu Dokter Spesialis Anak, dr. Harun Albar, SpA M.kes memberi tanggapan. Sebagai dokter anak, dia menyarankan kepada siapapun yang menjadi pemimpin negara tidak hanya memberi makan siang gratis saja, tapi juga memenuhi asupan protein dan lemak hewani.

"Besar harapan gue kepada mereka (pemimpin negara) untuk prioritaskan kesehatan mental maupun fisik anak dan ibu. Berhubung gue dokter anak, ya gue pengen protein dan lemak hewani menjadi concern ke depan. Karena itu makronutrien utama untuk mencegah stunting dan gizi buruk," ujar dr. Harun seperti dikutip dari akun X @harun_albar.

Menurut dr Harun, pencegahan stunting dan gizi buruk pada anak bisa dimulai dari kehamilan ibu sampai anak lahir. Ini mesti menjadi fokus utama.

"Tentunya, ini harus kolaborasi, tidak hanya pada Kementerian Kesehatan," katanya.

Untuk pemberian susu gratis, dr Harun tidak menyarankan pemberian susu kemasan, sebab gulanya sangat tinggi dan dapat mengganggu zat gizi dari makanan untuk anak.

"Susu kemasan gratis ke anak di bawah 2 tahun itu akan ganggu anak belajar mengunyah makanan. Kalau ada program ini, diutamakan susu segar dari sapi atau raw milk, bukan kemasan ya," jelasnya.

Dokter Harun mengatakan boleh saja memberi susu gratis asalkan memperketat juga regulasi terkait gulanya. Namun menurutnya dibanding memberi susu, lebih baik dialihkan ke makanan seperti telur.

"Oh ya kita pernah swasembada bahan pangan terutama beras yang notabene karbohidrat, tapi belum pernah ada untuk protein hewani agar tidak impor. Padahal ini juga bisa sekaligus memberdayakan para peternak dan nelayan untuk produksi kambing, sapi, ayam, ikan secara lokal," ujarnya.

"Ayo menjadikan protein hewani produk dalam negeri!Memperpendek birokrasi dari peternak dan nelayan hingga ke dapur ibu, sehingga harga menjadi lebih ramah kantong. Ini merupakan program nasional untuk mencapai generasi sehat dan cerdas untuk generasi emas di tahun 2045. Yok, lebih concern lagi soal gizi ibu dan anak buat cegah stunting," tutup dr Harun.

(Endang Oktaviyanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya