Kisah Pakubuwono IV, Raja Jawa yang Dituduh Merancang Pembantaian Orang Eropa

Solichan Arif, Jurnalis
Kamis 14 Desember 2023 22:00 WIB
Istana Pura Mangkunegaran Surakarta. (Foto: Dinas Pariwisata Kota Surakarta)
Share :

PENDUDUK Jawa pada masa kekuasaan Pakubuwono IV (1788-1820) di Keraton Surakarta digemparkan isu pembantaian orang-orang Eropa.

Entah dari mana kabar itu datangnya. Desas-desus pengganyangan semua orang Eropa yang bertempat di Pulau Jawa itu muncul pada bulan Juli 1789.

Kabar menghebohkan itu membuat orang-orang VOC kolonial Belanda terguncang sekaligus panik.

Sebab bersiar kabar, rencana pembantaian orang-orang Eropa datang dari Raja Jawa. Gagasan pembantaian orang-orang Eropa dirancang oleh Pakubuwono IV dan para penasihatnya.

 BACA JUGA:

“Pada Juli 1789 pihak Belanda tiba-tiba terguncang karena ada desas-desus bahwa Pakubuwono IV dan para penasehatnya yang baru merencanakan suatu pembunuhan besar-besaran,” demikian dikutip dari buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008).

Pakubuwono IV merupakan Raja Surakarta yang ketiga. Lahir 2 September 1768 dengan nama Raden Mas Subadya, Pakubuwono IV merupakan putra Pakubuwono III dengan permaisuri GKR. Kencana, keturunan Sultan Demak.

Pakubuwono IV naik tahta pada usia 19 tahun dan dianggap tidak cakap membaca situasi politik di lingkungan istananya yang banyak diliputi ketegangan dan persekongkolan.

Pakubuwono IV dalam pemerintahannya banyak mengangkat para ulama sebagai orang-orang kepercayaannya. Keberadaan orang-orang baru dengan ide-ide keagamaan baru itu bagi hierarki keagamaan yang sudah mapan di Surakarta dianggap sebagai ancaman.

 BACA JUGA:

Pada sisi lain, Istana Yogyakarta meyakini Pakubuwono IV sedang merencanakan perang untuk mempersatukan kerajaan.

Sementara itu desas- desus pembantaian orang-orang Eropa di Jawa mendorong VOC Belanda melakukan penyelidikan. Mereka mencemaskan adanya penghianatan.

“Pada September 1789, residen VOC di Surakarta, Andries Hartsinck (1788-1790), diketahui pergi menghadiri suatu pertemuan rahasia di istana pada suatu malam dengan memakai busana Jawa”.

Rumor pembantaian orang Eropa yang kemungkinan besar tidak benar itu, digoreng oleh istana Yogyakarta dan itu membuat VOC Belanda semakin panik. VOC Belanda dihasut untuk segera mengambil langkah militer kepada Pakubuwono IV.

 BACA JUGA:

Hamengkubuwono I dan Mangkunegara I meyakini rencana yang disiapkan Pakubuwono IV juga akan berimbas pada eksistensi Istana Yogyakarta dan Mangkunegaran.

Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun mereka bekerja sama dengan VOC Belanda. “Mangkunegara I menerima 4.000 real setiap tahun dari VOC untuk membebaskan dirinya dari ketergantungan pada Pakubuwono IV”.

Pada November 1790, istana Pakubuwono IV dikepung ribuan pasukan gabungan VOC Belanda, Yogyakarta dan Mangkunegaran. Di dalam istana, Pakubuwono IV juga mendapat tekanan dari para pejabat senior Surakarta.

Mereka mendesak Pakubuwono IV segera menyingkirkan para penasehatnya, termasuk membatalkan rencananya yang bisa berakibat kerajaan hancur. Pakubuwono IV yang dalam kondisi terjepit akhirnya menyerah.

Pada 26 November 1790 ia menyerahkan para penasehatnya kepada VOC Belanda untuk diasingkan. Pakubuwono IV sendiri memohon ampunan dan langsung dikabulkan oleh VOC.

“VOC merasa lega karena tidak jadi mengeluarkan biaya perang dan generasi tua mempunyai pengaruh lagi di Surakarta,” demikian disitir dari Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya