Apakah Covid EG.5 Singapura Sudah Masuk Indonesia?

Destriana Indria Pamungkas, Jurnalis
Kamis 07 Desember 2023 16:50 WIB
Ilustrasi untuk Covid EG.5 dari Singapura yang dikhawatirkan masuk Indonesia (Foto: Istimewa)
Share :

ADA banyak masyarakat yang penasaran apakah Covid EG.5 Singapura sudah masuk Indonesia?

 BACA JUGA:

Karena peningkatan jumlah pasien yang terinfeksi Covid EG.5 di Singapura terus meningkat. Kementerian Kesehatan Singapura bahkan telah mengeluarkan himbauan agar masyarakat tetap waspada terhadap peningkatan penyakit tersebut.

Diberitakan oleh The Straits Times, pada minggu 19-25 November 2023 lalu diperkirakan jumlah infeksi meningkat dua kali lipat menjadi 22.094 dari yang sebelumnya 10.726.

Lebih lanjut lagi, Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan hal ini bisa disebabkan karena banyak faktor, termasuk adanya musim perjalanan akhir tahun yang meningkat dan imunitas penduduk yang menurun.

Meskipun negara-negara di wilayah beriklim sedang mengalami peningkatan kasus penyakit pernapasan, Kementerian Kesehatan mengatakan secara keseluruhan kasus penyakit pernapasan di Singapura masih tetap stabil.

Kementerian Kesehatan Singapura juga mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti program vaksinasi untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

"Dosis tambahan sekitar satu tahun setelah vaksin terakhir direkomendasikan untuk orang-orang berusia 60 tahun lebih, orang-orang yang rentan secara medis, serta warga yang tinggal di panti jompo," tulis Kementerian Kesehatan Singapura.

Namun, apakah Covid EG.5 yang ada di Singapura sudah masuk ke Indonesia?

Dilansir dari berbagai sumber, Kamis (7/12/2023), peningkatan kasus Covid-19 varian EG.5 di Singapura dapat menjadi pengingat untuk kembali meningkatkan kewaspadaan di tengah masyarakat.

Pasalnya, varian penyakit tersebut telah ditemukan di Indonesia sejak Agustus 2023 lalu. Bukan hanya varian EG.5, namun juga dengan EG.2. Dua varian tersebut yang belakangan dominan sebagai pemicu kasus positif Covid-19.

Kendati demikian, hal tersebut bukan hal yang harus dikhawatirkan secara berlebihan. Pasalnya, kasus kematian dan pasien yang dirawat tidak banyak, yakni di bawah 5 kasus per minggu.

Sementara Ketua Satgas Covid-19 PB IDI, Prof DR Dr Erlina Burhan, SpP(K) mengemukakan bahwa infeksi Covid-19 oleh subvarian EG.5 paling tinggi terjadi pada bulan Juli 2023 sebanyak 20%. Meskipun demikian, tidak ada gejala-gejala berat yang ditimbulkan dari infeksi tersebut.

“Gejalanya cenderung ringan demam, batuk, rhinorrhea, kehilangan penciuman dan pengecapan, seperti gejala umum Omicron,” jelas Prof DR Dr Erlina Burhan, SpP(K) dalam Media Update Satgas Covid PB IDI (6/12/2023).

Dijelaskan berat atau ringannya gejala yang ditimbulkan dari infeksi Covid-19 dipengaruhi oleh tingkat kekebalan tubuh seseorang bukan dari jenis varian yang menginfeksinya. Akan tetapi ada kemungkinan gejala menjadi berat pada kelompok rentan seperti lansia, orang komorbiditas dan orang dengan kondisi imunokompromais.

Dilansir dari laman John Hopkins Bloomberg School of Public Health, Covid-19 EG.5 merupakan varian terbaru yang berkaitan erat dengan varian XBB subvarian omicron. Varian tersebut telah beredar di AS sejak lama dan memiliki satu mutasi yang dapat menghindari kekebalan tubuh meski seseorang telah melakukan vaksinasi.

Demikian informasi mengenai apakah Covid EG.5 Singapura sudah masuk Indonesia?

(Hafid Fuad)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita Women lainnya