MESKI saat ini situasi sudah jauh membaik, namun ancaman Covid-19 masih terus menghantui manusia. Sejumlah kasus Covid-19 masih terjadi meskipun sebagian besar dalam kondisi ringan, bahkan laporan kematian akibat Covid-19 masih ditemukan.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan pada Jumat 10 November 2023 atau dua hari sebelum Hari Kesehatan Nasional, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pedoman terbaru penanganan dan pengobatan Covid-19. Beberapa diantatanya adalah:
1. Terkait perkiraan risiko beratnya penyakit, yang dibagi tiga. Risko tinggi (high), mereka yang immunosuppressed tetap menghadapi risiko tinggi kalau mereka sakit Covid-19, dengan perkiraan 6 persen akan harus dirawat di Rumah Sakit.
Risiko sedang (moderate), mereka yang berusia di atas 65 tahun dan juga mengalami keadaan seperti obesitas, diabetes dan atau penyakit kronik seperti penyakit paru obstruktif kroik (PPOK), penyakit ginjal atau hati, kanker dan mereka dengan disabilitas serta dengan komorbid poenyakit kronik berada dalam risiko sedang, dan perkiraan 3 persen akan harus dirawat RS.
Kemudian risiko rendah (low) adalah mereka yang tidak termasuk risiko tinggi dan sedang, dan kelompok ini perkiraan harus dirawat RS nya adalah 0,5 persen saja.
2. Terkait obat yang perlu diberikan pada pasien Covid-19 yang tidak berat (non-severe). WHO tetap merekomendasikan penggunaan obat nirmatrelvir-ritonavir (Paxlovid) pada mereka dengan kelompok risiko tinggi dan risiko sedang.
Jika nirmatrelvir-ritonavir tidak tersedia maka WHO menganjurkan pemakaian obat molnupiravir atau remdesivir pada mereka yang risiko tinggi saja, bukan pada mereka yang risiko sedang. Untuk mereka yang risiko rendah maka WHO tidak merekomendasikan pengobatan antiviral.
Jadi kalau ada masyarakat kita yang Covid-19 positif dan bukan masuk kelompok risiko tinggi atau sedang seperti penjelasan di atas maka cukup mengkonsumsi obat simtomatik mengatasi gejala, seperti demam atau nyeri, misalnya parasetamol.
WHO juga tidak setuju penggunaan obat anti viral VV116 untuk pasien umum, dan hanya disetujui untuk penelitian klinik saja. WHO juga kembali menegaskan tidak merekomendasikan penggunaan obat ivermectin untuk pasien Covid-19 yang tidak berat.
Sementara itu, untuk pasien Covid-19 yang sedang dan berat maka WHO hanya merekomendasikan penggunaan ivermectin dalam kerangka uji klinik (clinical trials).
(Leonardus Selwyn)