STUNTING menjadi salah satu masalah kesehatan yang menjadi tugas berat masyarakat Indonesia. Kondisi ini tentu akan memengaruhi perkembangan anak yang berujung pada masa depan mereka di kemudian hari.
Dokter Spesialis Anak Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K) mengatakan seorang anak belum akan mengalami kondisi wasting atau stunting pada usia enam bulan pertama kehidupan. Sebab pada masa itu, kebutuhan nutrisinya masih mudah dipenuhi dengan pemberian ASI.
"Akan tetapi, pada usia enam bulan saat anak mulai dikenalkan dengan MPASI, seringkali kenaikan berat badan dan tinggi badan seorang anak menjadi tidak optimal," kata dr. Rini.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengeluarkan edaran, bahwa makanan pendamping ASI (MPASI) yang baik diantaranya:
1. Diberikan pada waktu yang tepat, yaitu saat bayi berusia 6 bulan atau sebelum itu bila kebutuhan nutrisi sudah tidak dapat dipenuhi dengan ASI.
2. Jumlah yang cukup, yaitu mencukupi kebutuhan kalori, zat gizi makro dan mikro bayi.
3. Aman, yaitu proses pembuatannya higienis dan diberikan menggunakan tangan dan peralatan yang bersih.
4. Sesuai, baik teksturnya yang sesuai dengan kemampuan usia bayi, diberikan sesuai keinginan lapar dan kenyang bayi, serta diberikan dalam frekuensi yang benar.
"Baiknya sejak pemberian MPASI, ibu sudah mulai mengenalkan anak dengan beraneka ragam makanan dan rasa, karena akan mempengaruhi selera makan anak hingga dewasa nanti," katanya.
Dokter Rini menyebut, kandungan gizi MPASI yang baik harus mencukupi zat gizi makro dan mikro. Selain itu harus memiliki kandungan karbohidrat, lemak dan protein, terutama protein hewani yang tinggi zat besi.
Zat besi adalah salah satu elemen kunci dalam optimalisasi periode 1.000 HPK, termasuk untuk pencegahan stunting. Saat ini sebagai upaya untuk memudahkan dan memenuhi kebutuhan MPASI bayi, sudah banyak produk MPASI fortifikasi.
"MPASI fortifikasi adalah produk MPASI yang sudah diberikan penambahan nutrisi zat gizi makro dan mikro sesuai dengan rekomendasi dari CODEX milik FAO dan WHO," ujarnya.
Sebuah studi mengungkapkan, bahwa bayi yang mengonsumsi MPASI homemade menunjukkan kadar hemoglobin, serum feritin, dan zat besi serum yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan MPASI fortifikasi. Selain itu mereka juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan berat badan, stunting, dan wasting dibandingkan bayi dengan MPASI fortifikasi.
Dokter Rini menjelaskan, di Indonesia MPASI fortifikasi juga dalam pengawasan ketat dari BPOM yang tidak mengizinkan MPASI fortifikasi mengandung pengawet, pewarna atau perisa serta tidak boleh memiliki kandungan gula dan garam yang tinggi.
"Banyaknya fenomena ibu yang bekerja dan sulit memastikan pembuatan MPASI yang baik, membuat MPASI fortifikasi dapat menjadi pilihan dalam memenuhi kebutuhan gizi bayi," katanya.
Salah satu keunggulan MPASI fortifikasi adalah memiliki kandungan vitamin dan mineral terutama besi yang sudah mencukupi kebutuhan bayi, sehingga orang tua tidak perlu repot menghitung kandungan vitamin dan mineral dalam MPASI buatan rumah, karena sudah terjamin dipenuhi oleh MPASI fortifikasi.
"Bagi orang tua yang memiliki keterbatasan waktu dan khawatir dalam memenuhi kebutuhan zat gizi makro dan mikro anak, MPASI fortifikasi dapat menjadi pilihan bagi si kecil," tuturnya.
(Leonardus Selwyn)