GAGAL ginjal kronik adalah kerusakan ginjal baik struktur dan atau fungsinya yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih. Ketika seseorang mengalami gagal ginjal kronik, terdapat tiga terapi yang bisa dilakukan, diantaranya: transplantasi ginjal, hemodialisis atau cuci darah, dan CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis).
Di Indonesia sendiri, dari ketiga terapi ini yang paling banyak dilakukan dan dipilih para pasien Gagal Ginjal Kronis adalah Hemodialisis. Selain itu juga, tidak banyak pasien Gagal Ginjal Kronik berkeinginan untuk melakukan pilihan pertama yaitu melakukan transplantasi ginjal.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi Dr. dr. Maruhum Bonar H. Marbun, Sp.PD-KGH., FINASIM mengatakan saat ini semakin banyak pasien ginjal kronik atau PGK yang ingin melakukan transplantasi ginjal. Sebab cara ini memiliki banyak kelebihan untuk meningkatkan kualitas hidup.
“Kesehatan dan kebugaran tubuh meningkat, batasan makan dan minum lebih longgar, dapat beraktivitas seperti sediakala sebelum mengalami penyakit ginjal dan dapat hidup lama dibandingkan jika tetap menjalani dialysis,” ujar dr Bonar dalam acara edukasi kesehatan ginjal oleh Etana Biotechnologies baru-baru ini.
Namun menurut dr Bonar banyak pasien yang setelah melakukan transplantasi menjadi abai dengan kondisinya karena merasa sehat dan bugar sehingga tidak mengatur pola hidup dengan baik.
“Hampir 60 persen pasien mengabaikan perawatan usai menjalani transplantasi ginjal,” tuturnya.
Menurut dr Bonar, para pasien yang abai itu karena mereka merasa kondisinya sudah membaik sehingga tidak melakukan pengobatan secara teratur. Padahal meski sudah melakukan transplantasi ginjal, para pasien itu harus tetap melakukan pengobatan seumur hidup.
Dokter Bonar yang menjabat sebagai ketua perhimpunan transplantasi Indonesia pun menyebut berbagai risiko yang akan dialami oleh para pasien transplantasi ginjal yang abai melakukan pengobatan.
Adapun beberapa masalah yang bakal terjadi adalah infeksi pada perut, penurunan imun akibat obat imunosupresan, penurunan fungsi ginjal akibat gaya hidup yang tidak sehat, dan yang terparah adalah kemungkinan penolakan ginjal.
“Artinya kan itu kan benda asing, ginjal yang dipasang itu bukan ginjal dia, masuk ke dalam tubuhnya. Nah tubuhnya itu kan beradaptasi, kalau tubuh menganggap dia benda asing dan kalau tidak ditekan dengan obat immunosupresen, akan terjadi penolakan,” tuturnya.
(Leonardus Selwyn)