KESEHATAN ginjal merupakan hal yang wajib diperhatikan. Sebab ginjal berfungsi untuk membuang sisa metabolisme dalam tubuh. Nantinya ginjal akan menyalurkannya melalui urin.
Penyakit ginjal juga menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Per tahunnya ginjal menyumbang lebih dari 42.000 jumlah kematian di Indonesia. Sehingga dengan angka tersebut penyakit ginjal menduduki urutan ke 10 dalam kategori penyakit yang mematikan di Indonesia.
Lantas kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman seperti apa yang dapat merusak ginjal?
Dilansir dari Instagram @win_bodyslim, Rabu (10/8/2023). Makanan dan minuman yang dapat merusak ginjal yaitu minum air dari sumur yang mengandung zat kapur, makanan asin dan gurih, suka mengkonsumsi kopi dua hingga tiga gelas sehari, mengkonsumsi mie instan dua hingga tiga kali seminggu, makan bakso dan cilok terlalu sering, dll.
Mengkonsumsi makananan minuman tersebut sebenarnya bukan hal yang dilarang, akan tetapi disarankan untuk tidak mengkonsumsinya dalam jumlah yang sering, karena dapat mengganggu kesehatan fungsi ginjal itu sendiri.
Untuk itu, melakukan pencegahan pun lebih baik dilakukan dengan deteksi sedini mungkin terhadap kesehatan ginjal dengan cara mengenali terlebih dahulu penyebab-penyebab gagal ginjal.
Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan menskrining orang-orang yang tidak sakit untuk mengetahui apakah ada faktor risiko penyebab terjadinya penyakit ginjal atau tidak.
Sementara langkah selanjutnya dilakukan untuk menurunkan faktor risiko tersebut, dan yang terakhir menghindari minum obat sembarangan seperti obat antinyeri atau obat asam urat tanpa resep dokter.
Dalam mendukung gerakan pencegahan tersebut maka pemerintah juga telah menyediakan layanan untuk deteksi dini bagi masyarakat minimal setiap satu tahun sekali baik itu di tingkat RT atau RW, layanan tersebut dalam bentuk posyandu untuk usia produktif dan lansia.
“Deteksi dini paling minimal satu tahun sekali. Seluruh masyarakat diharapkan bisa mengakses layanan itu, termasuk juga pengobatan dan konseling untuk faktor risiko penyakit ginjal,” ucapnya.
(Leonardus Selwyn)