OBAT herbal untuk rematik mendadak viral di media sosial dan menjadi perbincangan masyarakat. Sebab, obat herbal yang diketahui bernama Tong Mai itu disebut-sebut membuat gagal ginjal hingga lambung pecah.
Menanggapi kasus ini, salah seorang dokter bedah melalui akun Twitternya, @dokterbedahyk, tampak membagikan sebuah utas tentang beberapa bahaya obat herbal yang banyak dijual di pasaran.
“Perforasi gaster atau lambung pecah sering ditemukan pada mereka yang konsumsi obat-obatan herbal macam ini yang biasanya obat rematik, nyeri sendi,“ ujar Dokter Bedah tersebut.
Dia kemudian menjelaskan, bahwa obat anti nyeri golongan NSAID( nonsteroidal anti inflammation drugs) seperti obat herbal anti rematik yang beredar tersebut dapat memicu terjadinya cedera mukosa alias tukak lambung.
Menurutnya, seseorang yang mengonsumsi obat herbal oplosan tersebut membuat pertahanan lambung menjadi lemah, sehingga memicu terjadinya cedera lambung yang penyembuhannya relatif lama.
“Saat kita konsumsi obat anti nyeri golongan NSAID( nonsteroidal anti inflammation drugs) akan terjadi cedera mukosa atau bahasa awamnya tukak,” tuturnya.
“Kalau kita konsumsi obat-obat herbal atau jamu yang oplosan tersebut di atas, maka pertahanan lambung akan jebol lama kelamaan, karena sekali lambung cedera, bisa lama sembuhnya 4-8 minggu bahkan 12 minggu,” katanya.
Dia lantas mengingatkan orang-orang yang terlanjur harus melakukan operasi lambung akibat mengonsumsi obat herbal tersebut dengan meminta resep dari dokter untuk memperoleh obat pelindung lambung.
“Kalo kamu ada nyeri sendi yang kronis atau dalam pengobatan obat anti nyeri yg lama pasca operasi misalnya, minta lah obat-obat pelindung lambung ke dokter seperti Ranitidin, famotidine, omeprazole dll, barangkali dokternya lupa,” katanya.
Dokter Bedah tersebut menjelaskan bahwa kasus cedera lambung tersebut memiliki risiko yang cukup fatal bahkan bisa mengancam nyawa jika tidak ditangani secara serius.
Dia lantas kembali mengingatkan para fasilitas kesehatan untuk berhati-hati dalam memberikan obat anti nyeri seperti pada penderita rematik. Sebab jenis obat NSAID tidak bisa sembarangan dikonsumsi tanpa dibarengi dengan obat gastroprotektan.
“Buat TS di garda depan lini pertama faskes jangan lupa pasien geriatri dengan artritis dan sebagainnya dikasih gastroprotektan drugs kalo ngasih obat NSAID, banyak kasusnya pasien rutin rematik bleeding atau perforasi gaster,” tuturnya.
Karena, jika sudah mengalami cedera lambung, biasanya perawatan pasien akan jauh lebih susah karena tingkat fatalitas yang tinggi tersebut. Bahkan, angka keberhasilan dari operasi pasien cedera lambung kini masih berkisar 50 persen saja.
“Operasi perforasi gaster atau lambung pecah bagi saya secara teknis mudah, tapi merawatnya susah, bahkan rekor saya masih 50-50. Yang selamat 50 persen saja,” tuturnya.
“I cant save them all. Karena datang dalam kondisi terlambat sudah sepsis alias infeksi berat karena isi lambung tumpah di rongga perut,” katanya.
(Leonardus Selwyn)