KADANG seseorang mengalami nyeri di kepala. Nah, jika nyeri di kepala tak kunjung membaik, maka tak boleh dianggap remeh.
Sebab nyeri di kepala yang tak kunjung membaik bisa menandai dari kondisi medis yang serius. Karenanya setiap orang harus bisa membedakan, ketika timbul rasa nyeri di kepala, apakah kondisi tersebut pada batas kewajaran atau tidak.
Dokter Spesialis Neurologi dari Siloam Hospitals Jantung Diagram, Vinnie Juliana Yonatan mengatakan, nyeri di kepala umum terjadi karena kurang tidur, kelelahan, juga stres.
"Rasa nyeri di kepala sifatnya ada yang ringan dan berat dengan sejumlah karakteristik. Ada rasa nyeri yang tajam, kepala seperti ditusuk, atau terasa seperti dipukul, ditekan secara konstan serta rasa berdenyut dan yang lainnya," jelas Dokter Vinnie.
Menurutnya, nyeri di kepala yang dibagi dua kelompok, yaitu sekunder dan primer. Nyeri kepala primer ini sebenarnya yang paling aman, karena penyebabnya dikarenakan bukan penyakit struktural otak atau di kepala.
"Tapi nyeri kepala sekunder patut diwaspadai karena terjadi akibat dari adanya penyakit tertentu yang mendasarinya terutama di bagian kepala dan leher," ungkap Dokter Vinnie.
Untuk nyeri kepala primer masih dibagi menjadi beberapa jenis yaitu ada yang nyeri kepala Migrain, yaitu nyeri di salah satu sisi kepala, bisa nyeri di bagian kiri saja atau kanan, diiringi rasa seperti berdenyut.
BACA JUGA:
Adapun nyeri kepala Tension, yaitu nyeri kepala tipe tegang terasa di seluruh area kepala terutama di belakang kepala dan biasa datang saat stress maupun kurang tidur.
Nyeri kepala Cervicogenic, yaitu rasa nyeri di bagian atas dan belakang kepala dan leher. Nyeri kepala Cluster, yaitu terasa nyeri kepala di salah satu sisi sampai ke daerah mata kiri atau kanan saja.
BACA JUGA:
Untuk nyeri kepala migrain ada yang tanpa Aura dan dengan Aura yaitu tanda-tanda yang mengawali sakit kepala migrain tanda-tanda yang dirasakan sebelum terjadi migrain ini umumnya berupa masalah penglihatan kilatan cahaya pada mata kekakuan pada leher dan anggota tubuh yang merasakan kesemutan hingga perasaan mual.
Bagaimana cara pencegahannya?
Dokter Vinnie menjelaskan, dapat dilakukan dengan merubah pola gaya hidup, yaitu istirahat yang cukup dan menjaga pola tidur tidak kurang dari 8 jam sehari.
"Faktor resiko lainnya juga harus dihindari, yaitu hindari risiko seperti hipertensi, jika memang sudah mempunyai riwayat hipertensi harus dikontrol tekanan darahnya dengan pola makan, obat anti hipertensi dan juga kontrol ke dokter. Atau bisa juga dengan melakukan gerakan relaksasi jika sedang duduk lama bekerja di depan komputer", pungkasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)