VAMPIRE facial PRP bukan hal baru di dunia treatment kecantikan. Terapi menggunakan darah itu dipercaya bisa menolak tua dan membuat kulit terlihat lebih sehat tanpa bopeng-bopeng membandel.
Tapi, apa yang terjadi di Meksiko tidak sesuai harapan. Facial vampire PRP yang tidak bertanggung jawab malah menyebabkan 3 orang terinfeksi HIV. Kok bisa?
Departemen Kesehatan New Mexico (DOH) melaporkan kejadian ini. Sebanyak 3 orang terkonfirmasi positif HIV setelah menjalani treatment vampire facial PRP di salah satu spa di Albuquerque. Treatment ini pun dikategorikan sebagai kegiatan berisiko penularan HIV bahkan Hepatitis C.
"Kami mengidentifikasi kasus positif HIV akibat vampire facial PRP pertama pada 2018 dan dua pasien lainnya pada 2019," jelas laporan Insider, dikutip MNC Portal, Senin (10/7/2023).
Temuan ini pun dianggap DOH penting untuk disiarkan ke publik di seluruh dunia. Terlebih, semakin banyak orang tertarik dengan treatment vampire facial PRP ini.
"Kami mendorong buat mereka yang menjajal treatment tersebut untuk melakukan tes HIV," saran dr Laura Parajon selaku wakil sekretaris DOH.
Akibat kejadian ini, pemilik spa dijatuhi hukuman penjara 3,5 tahun pada Juni 2022. Untuk spa-nya sendiri, sudah ditutup sejak 2018.
Apa itu vampire facial PRP?
PRP sendiri adalah jenis prosedur kosmetik yang menggunakan darah pasien sendiri untuk mengurangi munculnya garis-garis halus di wajah serta memudarkan kerusakan wajah akibat sinar matahari.
Jadi, sebelum treatment dilakukan tenaga kesehatan akan mengambil sejumlah darah pasien, kemudian diproses sedemikian rupa hingga mendapatkan plasma yang kaya akan protein dan trombosit.
Plasma darah ini yang kemudian dipakai untuk treatment. Penggunaan plasma ini ke wajah bisa dengan tindakan microneedling atau dengan menyuntikkan darah langsung ke kulit seperti tindakan filler.
Dari plasma darah itu, diharapkan dapat meningkatkan pergantian sel dan meningkatkan produksi kolagen serta elastin. Itu membuat kulit terlihat lebih halus, kencang, dan plumpy.
Umumnya treatment PRP aman dilakukan
BACA JUGA:
Nah, meski ada laporan kasus positif HIV setelah melakukan facial vampire PRP, Dokter Kulit Marisa Garshick menegaskan bahwa treatment ini umumnya aman, jika setiap prosedurnya dijalani dengan baik dan benar.
"Treatment ini umumnya aman, tapi pada mereka yang memiliki gangguan pendarahan atau kelainan pada trombosit, mungkin perawatan estetika ini akan kurang efektif mencapai tujuan yang diharapkan," papar dr Garshick.
Agar meminimalisir risiko HIV dari vampire facial PRP, dr Garshick menyarankan untuk mencari layanan ini di tempat yang punya kredibilitas baik. Jangan di tempat abal-abal dengan iming-iming harga sangat miring.
"Pastikan melakukan PRP hanya di tempat yang bersertifikat," tegasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)