Mengulik Sejarah Stasiun Balapan Solo yang Jadi Judul Lagu Legendaris Didi Kempot

Destriana Indria Pamungkas, Jurnalis
Senin 06 Maret 2023 12:00 WIB
Stasiun Balapan Solo. (Foto: pariwisata.surakarta.go.id)
Share :

MENGULAS sejarah Stasiun Balapan Solo yang terletak di perbatasan antara Kelurahan Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Stasiun Balapan sangat legendaris bahkan pernah jadi julul lagu populer Didi Kempot, maestro musisi campursari yang dijuluki The Godfather of Broken Heart.

Mendiang Didi Kempot pernah menyanyikan lagu 'Stasiun Balapan' yang dirilis pada 1991. Lagu yang termasuk salah satu masterpiece sang penyanyi legendaris tersebut mengisahkan tentang perpisahan sepasang kekasih di Stasiun Balapan Solo.

Mengutip dari laman resmi Pemkot Surakarka, Stasiun Solo Balapan merupakan stasiun paling bersejarah dan tertua di Kota Solo. Dibangun pada 1873 oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Dulunya stasiun ini dimiliki oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api swasta Belanda.

 

Stasiun Balapan Solo. (Okezone.com/Bramantyo)

Berdirinya Stasiun Balapan Solo berbarengan dengan pembangunan jalur kereta api Kedungjati - Solo sepanjang 74 km dan lebar 1.435 mm.

 BACA JUGA:Menguak Sejarah Stasiun Jakarta Kota, Cagar Budaya Peninggalan Belanda yang Legendaris

Masa itu, Solo tengah digalakkan untuk diubah dari pola pedesaan menjadi perkotaan. Otomatis ide perubahan tersebut akan menyentuh sarana dan prasarana umum di mana salah satunya adalah perihal transportasi kereta api.

 

Menurut Heritage KAI, keberadaan kereta api di Solo memudahkan mobilitas pengangkutan gula, tembakau, dan kopi dari daerah-daerah pedalaman ke pelabuhan Semarang. Sehingga digagaslah jalur kereta api dari Semarnag ke Solo. Lokasi yang digunakan untuk dibangun stasiun adalah Alun-alun Utara milik Keraton Mangkunegara yang di dalamnya terdapat lahan pacuan kuda Balapan.

Lahan pacuan kuda tersebut dianggap paling sesuai untuk dijadikan stasiun karena rel bisa langsung mengarah ke Semarang. Alhasil, pacuan kuda Balapan pun dirombak untuk menjadi stasiun dan nama Balapan tetap dipertahankan.

Stasiun Balapan pun akhirnya berdiri dan menghubungkan stasiun-stasiun lainnya, seperti Purwosari, Sriwedari, dan Jebres.

Karena aktivitas pengangkutan di Stasiun Balapan Solo semakin meningkat, pada 1926 dilakukan renovasi stasiun yang dirancang oleh Ir. Thomas Karsten. Ia pun memodernisasi bangunan stasiun dengan gaya yang sedang populer di Eropa masa itu.

 

Kini, Stasiun Solo Balapan telah berubah menjadi bangunan cagar budaya berdasarkan Keputusan Walikota Surakarta Nomor 646/1-R/1/2013 tahun 2013 serta masuk ke dalam daftar Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan nomor RNCB.20160908.02.001258.

Demikian pembahasan mengenai sejarah Stasiun Balapan Solo.

(Salman Mardira)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita Women lainnya