BARU-baru ini dunia dikejutkan dengan kasus kematian, satu orang anak perempuan berusia 11 tahun di Kamboja yang dilaporkan meninggal dunia akibat flu burung.
Dikutip dari The Guardian, gadis kecil tersebut sempat dirawat di rumah sakit anak di di Phnom Penh dan mengalami gejala seperti demam dan batuk, sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Perkembangan kasus pun berlanjut pada tracing, menelusuri beberapa kontak erat dari sang anak. Mengutip Times of India, sesuai laporan, ayah sang gadis dan 11 orang lainnya juga dinyatakan positif H5N1.
Dari beberapa orang kontak erat yang ditelusuri, dilaporkan ada beberapa gejala umum yang dialami, mulai dari mata merah, demam tinggi, batuk, sakit tenggorokan, pilek atau hidung tersumbat, nyeri otot atau tubuh, sakit kepala, kelelahan, hingga sesak napas, dilansir dari Times of India, Senin (27/2/2023).
Sementara itu, sehubungan dengan perkembangan kasus virus flu burung, di Indonesia sendiri sudah ditemukan kasusnya, kasus positif virus H5N1 clade 2.3.4.4b melalui uji PCR dan sequencing yakni di peternakan komersial bebek peking yang tidak divaksin di Provinsi Kalimantan Selatan.
Kasus ini diungkap melalui surat edaran (SE) Kementerian Kesehatan tentang Kewaspadaan Kejadian Luar Biasa Flu Burung (H5N1) CLADE BARU 2.3.4.4b NOMOR : PV.03.01/C/ /2023.
BACA JUGA:Kemenkes Mulai Siaga Ancaman Flu Burung
BACA JUGA:Kasus Flu Burung Mucul di Kalimantan Selatan, Menyerang Peternakan Bebek Peking
Meski demikian, per Sabtu 25 Februari 2023, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, memastikan kasus flu burung yang ditemukan di Indonesia, baru ditemukan pada ungags dan belum ada laporan terjadi pada manusia.
"Ini kasusnya baru diunggas, kalau (kasus) di manusia belum," jelas dr Nadia.
(Rizky Pradita Ananda)