MOMEN setelah melahirkan anak yang sudah 9 bulan dikandung dan dinanti-nanti kelahirannya, seharusnya jadi momen bahagia.
Namun tidak dengan yang dialami oleh Krystina Pacheco, wanita asal Texas, AS, yang hampir saja kehilangan nyawanya setelah melahirkan anak perempuannya. Kala itu, Krystina melahirkan sang putri, Amelia pada 24 Oktober 2022, lewat persalinan operasi sesar yang lancar.
Tak terduga, dua hari kemudian saat keluar dari rumah sakit, wanita berusia 29 tahun tersebut tiba-tiba mengalami demam. Saat itu, ia menganggap demam yang ia alami hanyalah proses pemulihan pasca operasi sesar, dan oleh suster di rumah sakit Krystina diberi ibuprofen untuk meredakan demamnya tersebut.
Meski sudah minum obat, di rumah Krystina tetap merasa tak enak badan. Ia memutuskan untuk periksa ke dokter dan kemudian ia dirawat di ruang UGD. Memburuk, Krystina diterbangkan ke salah satu rumah sakit di San Antonio, dan dokter menemukan bahwa tubuh ibu dua anak tersebut sudah mengalami syok septik, dilansir dari ABC News, Minggu (26/2/2023).
"Saya hanya ingat, rasanya seperti tidak bisa bernapas lagi dan saya tidak bisa melihat lagi dan rasanya seperti menghilang. Hal terakhir yang saya ingat, mendengar suami saya memohon-mohon agar saya sadar dan tetap hidup,” ujar Krystina.
Secara medis, saat terjadi syok septik, tubuh mengalami tekanan darah rendah yang berbahaya. Salah satu faktor risiko terjadinya syok septik, memang melalui prosedur pembedahan.
Ironisnya, laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebutkan, sepsis adalah penyebab utama kedua kematian terkait kehamilan di AS, setelah kondisi penyakit kardiovaskular.
Dalam kasus yang dialami Krystina, diungkap sang suami Jacob Pacheco, syok septik yang dialami istrinya itu sudah mulai memengaruhi jantung, paru-paru dan ginjalnya. Maka dari itu, dalam waktu secara bersamaan, Krystina menjalani treatment dialisis untuk membantu ginjalnya dan pada mesin ECMO, alat penyelamat yang menghilangkan karbon dioksida dari darah dan mengirim kembali darah dengan oksigen ke tubuh, memberikan waktu bagi jantung dan paru-paru untuk beristirahat dan bisa sembuh.
“Dokter saat itu mengatakan persentase istri saya untuk bisa tetap hidup hanya 20 persen, itu sangat mengerikan,” ujar Jacob.
Selama dua minggu Krystina harus dirawat di unit perawatan intensif dan dialisis dengan mesin ECMO. Untungnya, pada pertengahan November 2022, kondisi kesehatannya mulai ada peningkatan, sehingga dokter bisa mengeluarkan selang pernapasannya sehingga perempuan tersebut bisa berbicara.
(Foto: ABC News)
Perjuangan Krystina tak berhenti sampai situ, tepat sebelum perayaan Thanksgiving, dokter memberitahunya bahwa kedua kaki dan tangannya harus diamputasi. Hal ini karena tangan dan kaki Krystina sudah mengalami kerusakan yang terjadi saat dirinya dalam perawatan intensif.
BACA JUGA: Viral Transgender Hamil dan Melahirkan, Simak Faktanya!
BACA JUGA:Mengenal Sindrom Mata Malas, ketika Silinder Hanya Terjadi di Satu Bagian
"Tangan dan kaki saya menghita, seperti kena frostbite. Tim medis sudah berusaha maksimal untuk menghindari opsi untuk amputasi. Saya hanya bisa menangis dan menyadari hidup saya tak akan pernah sama lagi,” ujar Krystina lagi.
Krystina akhirnya menjalani operasi amputasi, untuk mengamputasi kedua lengan di bawah siku diikuti dengan operasi kedua untuk mengamputasi kedua kaki di bawah lutut. Pada akhir Januari 2023, pasca tiga bulan dirawat, Krystina akhrinya bisa keluar dari rumah sakit dan dipindahkan ke TIRR Memorial Hermann, pusat rehabilitasi di Houston.
(Rizky Pradita Ananda)