WANITA berstatus janda lumrah ditemukan di belahan dunia manapun. Tapi, di Asia ternyata ada beberapa negara yang disebut-sebut memiliki janda terbanyak.
Status janda ini tentu saja didapat setelah mereka bercerai dari suami. Berdasarkan data, bahkan ada yang sampai pernah mencapai jumlah janda terbanyak bukan hanya di Asia, tetapi juga dunia.
Penasaran negara mana saja yang bisa dikatakan sebagai penghasil janda terbanyak? Simak daftarnya berikut ini sebagaimana dikutip dari laman The Loomba Foundation, sebuah NGO yang didedikasikan untuk meningkatkan kehidupan para janda.
BACA JUGA:Alasan Janda di India Tak Boleh Kembali ke Rumah, Dianggap Gagal Menjaga Suami
1. India
Salah satu negara di Asia dengan janda terbanyak jatuh pada India. The Loomba Foundation juga menyebutkan, di tahun 2015 India bahkan memiliki jumlah janda terbanyak di dunia.
Tradisi memuliakan sapi di India (Reuters)
Kala itu, jumlah janda di Negeri Bollywood mencapai 46.457.516. Jumlah ini cukup meningkat dari tahun 2010 yang berjumlah sekitar 42 juta janda.
BACA JUGA:Mengenal Balawang Tujuh, Tradisi Perkawinan Janda dan Duda di Tanah Banjar
2. China
Pada tahun 2010, China sempat berada di atas India soal jumlah janda terbanyak. Tapi, salah satu negara di benua Asia timur ini kemudian menempati posisi satu tingkat di bawah India pada tahun 2015 dengan jumlah janda sebanyak 44.590.50.
Lanjut pada tahun 2018, angka perceraian di China terbilang cukup banyak. Jumlahnya mencapai 3.2 per 1.000 penduduk. Diketahui ada lebih 1 miliar jiwa yang menghuni negeri tirai bambu itu.
3. Kazakhstan
Bergeser ke Kazakhstan yang terletak di Asia Tengah, jumlah janda di negara tersebut juga termasuk yang terbanyak. Ada 4.6 per 1.000
penduduk dari toral populasi lebih dari 19 juta orang, yang pada akhirnya bercerai. Angka ini tertinggi antara tahun 2020 sampai 2021.
Sementara pada tahun 2016 lalu, tingkat perceraian di Kazakhstan diperkirakan 3.00 dari 1.000 orang.
4. Maladewa
Negara Asia selanjutnya yang dihuni janda terbanyak adalah Maladewa. Bagaimana tidak, angka perceraian negara Asia Selatan itu menyentuh
5.52 per 1.000 penduduk dengan populasi sekitar lebih dari 500.000 orang.
(Salman Mardira)