TINDAK prosedur rutin yang dilakoni seorang pria di Tunisia satu ini berakhir dengan fatal.
Pria berusia 64 tahun tersebut dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami pembusukan Mr P miliknya. Awalnya, pria paruh baya itu datang ke rumah sakit untuk prosedur memasang kateter.
Pemasangan katater tersebut, dimaksudkan agar bisa membantunya buang air kecil. Setelah serangan stroke yang membuat sang pria memiliki kontrol kandung kemih yang terbatas.
Selanjutnya, 10 hari kemudian ia kembali ke rumah sakit dengan sudah mengalami demam, nyeri, dan penisnya yang berubah warna menjadi hitam kecoklatan. Dokter lalu mendapati, ujung Mr P sang pasien sudah membesar dan membusuk.
Lewat pemeriksaan juga, terlihat darah sang pria mengandung sel darah putih tingkat tinggi. Ini artinya tubuhnya sedang berusaha melawan infeksi, oleh dokter sang pasien pun diberikan antibiotik.
Pada pemeriksaan selanjutnya, terungkap bahwa pria paruh baya itu terinfeksi Klebsiella pneumoniae, sejenis bakteri yang terkadang dapat menginfeksi pasien di tempat perawatan kesehatan.
Dokter lalu mencoba menyelamatkan nyawa sang pasien dengan cara membuang penisnya yang terinfeksi, tetapi tetap saja karena sepsis (reaksi berbahaya yang bisa mengancam nyawa) terhadap infeksi, nyawa sang pasien tak bisa terselamatkan, dilansir dari The Sun, (Sabtu (18/2/2023).
Sepsis sendiri, terjadi ketika sistem kekebalan dalam tubuh bereaksi berlebihan terhadap infeksi dan mulai merusak jaringan dan organ tubuh orang itu sendiri.
Kasus mengejutkan ini dilaporkan dalam Journal of Medical Case Reports. Dalam laporan tersebut, petugas medis meng-highlight bagaimana cepatnya sepsis bisa menimbulkan kefatalan.
“Meskipun kontrol sudah dilakukan dengan debridemen agresif yakni pengangkatan jaringan, perawatan luka yang hati-hati, dan pemberian antibiotik spektrum luas, pasien meninggal karena syok septik,”
“Waktu antara diagnosis dan pengobatan sangat memengaruhi morbiditas dan mortalitas, dan bisa dengan cepat berkembang menjadi sepsis. Inilah mengapa, penyakit ini tetap bisa jadi penyakit yang mengancam jiwa,” bunyi keterangan petugas medis dalam laporan Journal of Medical Case Reports tersebut.
(Rizky Pradita Ananda)